Cerita Dewasa 2016–2017 Bergambar Hot Seru | Kakak Pacarku Merontah-rontah Ketika Ditindih

Cerita Dewasa 2016–2017 Bergambar Hot Seru | Kakak Pacarku Merontah-rontah Ketika Ditindih – cerita sejenis : cerita seks terpanas, cerita mesum terbaru, cerita kekinian 17 plus-plus, bikin suasana dingin jadi anget, cerita jablay, cerita perek, cerita tante-tante seksi kesepian, cerita om-om nakal, janda kedinginan, janda kembang masih perawan, cerita abg liar di atas ranjang,  dan masih banyak cerita dewasa 18++  bergambar sebelum ini.

Cerita Seks Hot Dewasa Kakak Pacarku Merontah-Rontah Ketika Ditindih. Meluncurlah aku dgn motor Honda ke sebuah rumah di salah satu kompleks di Jakarta.  Vina memang kariernya sdng naik daun,  dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini.  Aku sih sdh punya posisi lumayan di kantor.  Hanya saja,  kemacetan di kota ini begitu parah,  jadi lebih baik beli motor saja dari pda beli mobil.  Vina pun tak keberatan mengarungi pelosok-pelosok kota dgn motor bersamaku.

Kebetulan,  pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa pulang di tengah hari,  tapi bisa jg sampai menginap di kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan.  Vina,  pacarku,  mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya.  Jadi,  aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu menjemputnya terlebih dulu.

Sesampai di rumahnya,  pagar rumah masih tertutup walau tidak terkunci.  Aku mengetok pagar,  dan keluarlah Marta,  kakak Vina,  untk membuka pintu. “Loh,  enggak kerja?” tanyaku. “Nggak,  aku izin dari kantor mau ngurus paspor, ” jawabnya sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door lebar-lebar agar motorku msk ke dlm. “Nyokap ke mana?” tanyaku lg. “Oh,  dia lg ke rumah temannya tuh,  ngurusin arisan, ” kata Marta,  “m mau ddk di mana Dodi? Di dlm nonton tv jg boleh,  atau Klau mau di teras ya enggak apa jg.  Bentar yah,  saya ambilin minum. ”

Setlah motor parkir di dlm pekarangan rumah,  kututup pagar rumahnya.  Aku memang akrab dgn kakak Vina ini,  umurnya hanya sekitar dua tahun dari umurku.  Yah,  aku menunggu di teras sajalah,  canggung jg rasanya ddk nonton tv bersama Marta,  apalg dia sdng pakai clana pendek dan kaos oblong.

Setlah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah,  aku celingukan jg tak tahu mau bikin apa.  Iseng,  aku melongok ke ruang tamu,  hendak melihat acara televisi.  Wah,  ternyata mataku malah terpana pda paha yang putih muls dgn kaki menjulur ke depan.  Kaki Marta ternyata sangat muls,  kulitnya putih menguning.

Marta memang sdng menonton tv di lantai dgn kaki berjelonjor ke depan.  Kadang dia ddk bersila.  Baju kaosnya yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa kutebak berwarna putih.  Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dgn ruang tamu,  setlah itu barulah ruang nonton tv.  Klau aku melongokkan kepalaku semua,  yah langsung terlihatlah wajahku.

Tapi rasanya ada keinginan untk melihat dari dekat paha itu,  biar hanya sepintas.  Aku berdiri.“Ta,  ada koran enggak yah, ” kataku sambil berdiri memski ruang tamu. “Lihat aja di bawah meja, ” katanya sambil lalu.

Cerita Dewasa 2016–2017 Bergambar Hot Seru | Kakak Pacarku Merontah-rontah Ketika Ditindih.

Cerita Dewasa 2016–2017 Bergambar Hot Seru | Kakak Pacarku Merontah-rontah Ketika Ditindih #1Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat.  Ah,  putih muls semua.  Buah dada yang pas dgn tubuhnya.  Tingginya sekitar 160 cm dgn tubuh langsing terawat,  dan buah dadanya kukuh melekat di tubuh dgn pasnya.“Aku ingin dada itu, ” kataku membatin.  Aku membayangkan Marta dlm keadaan telanjang.  Ah,  ‘adikku’ bergerak melawan arah gravitasi.“Heh! Kok km ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina lho!, ” Marta menghardik.

Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya.  Aku tak sanggup berucap walau hanya untk membantah.  Bibirku membeku,  malu,  takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.“Apa km melotot begitu,  mau ngancem?! Hah!”“Astaga,  Marta,  km. .  km salah sangka, ” kataku tergagap.  Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin naik pitam. “Saya bilangin km ke Vina,  pasti saya bilangin!” katanya setengah berteriak.  Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi sangar.  Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa harga dirinya dilecehkan.  Perasaan yang wajar kupikir-pikir.
“Marta,  maaf,  maaf.  Benar-benar enggak sengaja saya.  saya enggak bermaksud apa-apa, ” aku sedikit memohon. “Ta,  tolong dong,  jgn bilang Vina,  kan cuma ngeliatin doang,  itu jg enggak sengaja.  Pas saya lg mau ngambil koran di bawah meja,  baru saya liat elu, ” kataku mengiba sambil mendekatinya.

Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku mendekatinya. “Km ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar km!, ” katanya garang.  Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu,  dan itu malah membuatnya panik. “Duh,  Ta,  maaf bgt nih.  Saya enggak ada maksud apa-apa,  beneran, ” kataku.

Namun,  situasi tlah berubah,  Marta malah menganggapku sdng mengancamnya.  Ia mendorong dadaku dgn keras.  Aku kehilangan keseimbangan,  aku tak ingin terjatuh ke belakang,  kuraih tgnnya yang masih tergapai saat mendorongku.  Raihan tgn kananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tgn kirinya.  Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh,  aku pun berhasil menjaga keseimbangan.  Namun,  keadaan makin runyam.“Eh! km kok malah tangkep tgn saya! Mau ngapain km? Lepasin enggak!!, ” kata Marta.

Entah mengapa,  tgn kananku tidak melepaskan tgn kirinya.  Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya.  Merasa terancam,  Marta malah sekuat tenaga melayangkan tgn kanannya ke arah mukaku,  hendak menampar.  Aku lebih cekatan.  Kutangkap tgn kanan itu,  kedua tgnnya sdh kupegang tanpa sengaja.  Kudorong dia dgn tubuhku ke arah sofa di belakangnya,  maksudku hanya berusaha untk menenangkan dia agar tak mengasariku lg.  Tak sengaja,  aku justru menindih tubuh halus itu.

Marta terddk di sofa,  sementara aku terjerembab di atasnya.  Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku,  namun tgnku tak bisa menahan bagian atas tubuhku Krna masih mencengkeram dan menekan kedua tgnnya ke sofa.  Jadilah aku menindihnya dgn mukaku menempel di pipinya.  Tercium aroma wangi dari wajahnya,  dan tak tertahankan,  sepersekian detik bibirku mengecup pipinya dgn lembut.

Tak ayal,  sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta.  Marta berteriak,  “Lepasin! Lepasin!” dgn paraunya.  Waduh,  runyam bgt Klau terdengar tetangga.  Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dgn tgn kananku.  Marta berusaha vaginaik,  namun tak bisa.  Yang terdengar hanya,  “Hmmm!” saja.  Namun,  tgnnya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku justru bergerak liar,  ingin menggapai wajahku.

Hah! Tak terpikir,  posisiku ini benar-benar seperti berniat memperkosa Marta.  Dan,  Marta sepertinya pantas untk diperkosa.  Separuh tubuhnya tlah kutindih.  Dia terddk di sofa,  aku di atasnya dgn posisi menddkinya namun berhadapan.  Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa mengusir tubuhku dari pinggangnya yang tlah kuddki.  Tgn kanannya masih dlm kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa,  tgn kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa mengenainya,  mulutnya tersekap.

Tubuh yang putih itu dgn lehernya yang jenjang dan sedikit muncul urat-urat Krna usaha Marta untk vaginaik,  benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang.  Aku berpikir bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya.  Dasar otak keparat,  diserang nafsu,  dua tiga detik kmudian aku mendapatkan caranya. Tanpa diduga Marta,  secepat kilat kulepas cengkeraman tgnku dari tgn dan mulutnya,  namun belum sempat Marta bereaksi,  kedua tgnku sdh mencengkeram erat lingkaran clana pendeknya dari sisi kiri dan kanan,  tubuhku meloncat mundur ke belakang.

Kaki Marta yang meronta-ronta teruus ternyata mempermudah usahaku,  kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya clana pendek itu beserta clana dlm pinknya.  Krna kakinya meronta teruus,  tak sengaja dia tlah mengangkat pantatnya saat aku meloncat mundur.  Clana pendek dan clana dlm pink itu pun lolos dgn mudahnya sampai melewat dengkul Marta.

Astaga! Berhasil!

Marta jadi setengah bugil.  Satu dua detik Marta pun sempat terkejut dan terdiam melihat situasi ini.  Kugunakan kelengahan itu untk meloloskan sekalian clana pendek dan clana dlmnya dari kakinya,  dan kulempar jauh-jauh.  Marta sadar,  dia hendak vaginaik dan meronta lg,  namun aku tlah siap.  Kali ini kubekap lg mulutnya,  dan kususupkan tubuhku di antara kakinya.  Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku,  Krna dia sdh tak berclana,  aku bisa melihat vaginanya dgn kelentit yang cukup jelas.  Jembutnya hanya menutupi bagian atas vagina.  Marta ternyata rajin merawat alat genitalnya.

Cerita Dewasa 2016–2017 Bergambar Hot Seru | Kakak Pacarku Merontah-rontah Ketika Ditindih

Cerita Dewasa 2016–2017 Bergambar Hot Seru | Kakak Pacarku Merontah-rontah Ketika DitindihPekikan Marta berhasil kutahan.  Sambil kutekan kepalanya di sandaran sofa,  aku berbisik,“Marta,  km sdh kayak gini,  Klau km teriak-teriak dan orang-orang dateng,  percaya enggak orang-orang Klau km lg saya perkosa?”

Marta tiba-tiba melemas.  Dia menyadari keadaan yang saat ini berbalik tak menguntungkan buatnya.  Kmudian dia hanya menangis terisak.  Kubuka bekapanku di mulutnya,  Marta cuma berujar sambil mengisak,“Dodi,  please… Jgn diapa-apain saya.  Ampun,  Di.  saya enggak akan bilang Vina.  Beneran. ”

Namun,  keadaan sdh kepalang basah,  syahwatku pun sdh di ujung tanduk rasanya.  Aku menjawabnya dgn berusaha mencium bibirnya,  namun dia memalingkan mukanya.  Tgn kananku langsung saja menelusup ke selangkangannya.  Marta tak bisa mengelak. Ketika tgnku menyentuh halus permukaan vaginanya,  saat itulah titik balik segalanya.  Marta seperti terhipnotis,  tak lg bergerak,  hanya menegang kaku,  kmudian mendesis halus tertahan.  Dia pun pasti tak sengaja mendesah.

Seperti mendapat angin,  aku permainkan jari tengah dan telunjukku di vaginanya.  Aku permainkan kelentitnya dgn ujung-ujung jari tengahku.  Marta berusaha berontak,  namun setiap jariku bergerak dia mendesah.  Desahannya makin sulit ditutupi saat jari tengahku msk untk pertama kali ke dlm vaginanya.  Kukocokkan perlahan vaginanya dgn jari tengahku,  sambil kucoba untk mencumbu lehernya.

“Jgn Dod, ” pintanya,  namun dia tetap mendesah,  lalu memejamkan mata,  dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit,  membuatku leluasa mencumbui lehernya.  Dia tak meronta lg,  tgnnya hanya terkulai lemas.  Sambil kukocok vaginanya dan mencumbui lehernya,  aku membuka resleting clanaku.  “Adik”-ku ini memang sdh menegang sempurna sedari tadi,  namun tak sempat kuperlakukan dgn selayaknya.  Krna tubuhku tlah berada di antara kakinya,  mudah bagiku untk mengarahkan penisku ke vaginanya.

Marta sebetulnya masih dlm pergulatan batin.  Dia tak bisa mengelak terjgn-terjgn nafsunya saat vaginanya dipermainkan,  namun ia jg tak ingin kehilangan harga diri.  Jadilah dia sedikit meronta,  menangis,  namun jg mendesah-desah tak karuan.  Aku bisa membaca situasi ini Krna dia tetap berusaha memberontak,  namun vaginanya malah makin basah.  Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.

Penisku mengarah ke vaginanya yang tlah becek,  saat kepala penis bersentuhan dgn vagina,  Marta masih sempat berusaha berkelit.  Namun,  itu semua sia-sia Krna tgnku langsung memegangi pinggulnya.  Dan,  kepala penisku pun msk perlahan.  Vagina Marta seperti berkontraksi.  Marta tersadar, “Jgn…” teriaknya atau terdengar seperti rintihan.

Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku.  Kutekan sedikit lebih keras,  Marta sedikit menjerit,  setengah penisku tlah msk.  Dan satu sentakan berikutnya,  seluruh penisku tlah ada di dlm vaginanya.  Marta hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja.  Ia sdng mengalami kenikmatan tiada tara sekaligus perlawanan batin tak berujung.  Kugoyangkan perlahan pinggulku,  penisku keluar msk dgn lancarnya.  Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendur lg.

Tgnku mulai bergerilya ke arah buah dadanya.  Marta masih mengenakan kaos rumah.  Tak apa,  toh tgnku bisa menyusup ke dlm kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati onggokan daging yang begitu kenyal dgn kulit yang terasa begitu halus.  Payudara Marta begitu pas di tgnku,  tidak terlalu besar tapi tidak jg bisa dibilang kecil.  Kuremas perlahan,  seirama dgn genjotan penisku di vaginanya.  Marta hanya menoleh ke kanan dan ke kiri,  tak mampu melakukan perlawanan.  Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan pinggulku.

Aku buka kaos Marta,  kmudian BH-nya,  Marta menurut.  Pemandangan setlah itu begitu indah.  Kulit Marta putih menguning langsat dgn payudara yang kencang dan lingkaran di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri berwarna merah kecokelatan.  Tak menunggu lama,  kubuka kemejaku.  Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyang lembut pinggulku,  membiarkan penisku merasai seluruh relung vagina Marta.

Sambil aku bergoyang,  aku mengulum pentil di payudaranya dgn lembut.  Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya dgn lidahku,  namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di payudaranya.  Ini semua membuat Marta mendesah lepas,  tak tertahan lg.Aku mulai mengencangkan goyanganku.  Marta mulai makin sering menegang,  dan mengeluarkan rintihan,  “Ah… ah…”

Dlm goyangan yang begitu cepat dan intens,  tiba-tiba kedua tgn Marta yang sdng mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku. ”Aaahhh, ” lenguhan panjg dan dlm keluar dari mulut mungil Marta.  Ia sampai pda puncaknya.  Lalu tgn-tgn yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku.  Aku makin intens menggoyang pinggulku.  Kurasakan penisku berdenyut makin keras dan sering.

Bibir Marta yang tak bisa menutup Krna menahan kenikmatan itu pun kulumat,  dan tidak seperti sebelum-sebelumnya,  kali ini Marta membalasnya dgn lumatan jg.  Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang.  Tgn kananku tetap berada di payudaranya,  meremas-remas,  dan sesekali mempermainkan putingnya.

Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku,  sementara denyut di penisku pun semakin hebat.“Uhhh, ” aku mengejang.  Satu pelukan erat,  dan sentakan keras,  penisku menghujam keras ke dlm vaginanya,  mengiringi muncratnya spermaku ke dlm liang faginanya.

Tepat saat itu jg Marta memelukku erat sekali,  mengejang,  dan menjerit,  “Aahhh”.  Kmudian pelukannya melemas.  Dia mengalami ejakulasi untk kedua kalinya,  namun kali ini berbarengan dgn ejakulasiku.  Marta terkulai di sofa,  dan aku pun tidur telentang di karpet.  Aku tlah memperkosanya.  Marta awalnya tak terima,  namun sisi sensitif yang membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan,  yaitu usapan di vaginanya.

Ternyata,  dia sdh pernah bercinta dgn kekasihnya terdahulu.  Dia hanya tak menyangka,  aku-pacar adiknya malah menjadi orang kedua yang menyetubuhinya.Grrreeekkk.  Suara pagar dibuka.  Vina datang! Astaga! aku dan Marta masih bugil di ruang tamu,  dgn baju dan clana yang terlempar berserakan ….

Tags: #cerita abg #Cerita bugil #cerita hot #cerita Mahasiswi #cerita perawan #creita bobol gadis

Download Full Image