Dengan Sebuah Remasan Yang Lembut Akhirnya Lusi Mau Berselingkuh

28354 views

Cerita Sex Selingkuh | Dengan Sebuah Remasan Yang Lembut Akhirnya Lusi Mau Berselingkuh – Hari ini seperti biasanya berondong sahabatku seperti suara meriam s@ja begitu @ku lambat buka pintu depan menjawab ketukan tidak sabar.   Biasanya dia bawa gosip murahan, namun yang ini pasti bagus, kamu belum pernah bergairah seperti ini sejak kamu tahu kalau Prambas ternyata seorang gay.   Astaga, Lusi, @ku hanya tak bisa percayai apa yang baru s@ja kulihat.  Kami bergerak ke ruang keluarga.   @ku sengaja menempatkan diri duduk di tepi sofa.   Kamu kelihatan seperti mau pecah, ceritakan s@ja.   kat@ku menertawakan tingkah l@kunya itu.   Begini, @ku pergi ke tempatnya keluarga Shiahaan Sihombing malam ini untuk menarik uang iuran mereka.   Ternyata, selera mereka pada perabotan rumah sangat buruk.   Kemudian, Silvi keluar untuk membukakan pintu lalu @ku masuk.   Mereka mempunyai ruang makan dengan meja yang atasnya kaca.   Lalu kita duduk di sana dan @ku membuka dokumen asosiasi untuk menunjukkannya dan mengatakan padanya, kalau mereka bisa membayar semuanya sekaligus atau empat kali setahun.   Ini terdengar menjengkelkan.   @ku menyela.  .  , Jadi kamu lihat kalau mereka mempunyai mebel yang jelek.   

 Dengan Sebuah Remasan Yang Lembut Akhirnya Lusi Mau Berselingkuh

Jangan lewatkan baca juga : 

Sekarang @ku harus menjelaskan.   Kami tinggal di sebuah kompleks perumahan yang mempunyai sebuah asosiasi pemilik rumah.   Keluarga Sihombing baru-baru ini pindah ke seberang jalan itu.   Siska dan @ku berpikiran kalau mereka tidak sesuai di lingkungan perumahan ini.   Kebanyakan keluarga di sini berumur pertengahan tiga puluhan dan telah mempunyai anak.   Keluarga Sihombing adalah keluarga yang suaminya berumur lebih tua dan isterinya jauh lebih muda dan tidak memiliki anak.   Lusi, sst.   Bukan mebel yang @ku lihat.   Silvi memanggil Martin untuk membawa buku cek dan membayar uang iurannya dan membaca lalu menandatangani dokumennya.   Dan dia masuk ke dalam dengan memakai jubah mandi putih itu, rambutnya basah, @ku pikir mungkin baru s@ja keluar dari kamar mandi.   Dia duduk di seberangku dan saat dia mengambil dokumen itu, @ku sedang melihat menembus kaca meja ke kakinya.   Kemudian dia maju ke depan untuk menulis cek itu dan jubahnya tersingkap ke atas.   Dia sedang duduk di pinggir kursi dan kamu tahu apa yang sedang tergantung.   Maksudku tergantung.   Saat dia bergerak, itu seperti diayunkan maju-mundur.   Tuhan itu seperti pisang daging besar berwarna seperti ini.   jelasnya sambil menunjuk buah pisang yang ada di atas meja di ruang keluarga ini.   Astaga, kamu melihatnya Hanya beberapa detik.   Maksudku @ku jadi sangat malu.   Yah, benar.   Hanya cukup lama untuk menceritakan itu terayun maju-mundur dan besar seperti pisang.   Sekarang kami berdua tertawa genit seperti gadis sekolahan.   Apa dia tahu kamu melihatnya Bagaimana jika Silvi lihat kamu memperhatikan suaminya Tapi, itu mungkin tidak sebesar yang kamu pikir, maksudku hanya melihatnya sebentar kamu jadi merasa malu pasti kamu tidak akan benar-benar mengetahui apa yang sedang kamu lihat.   Temanku, itu memang besar! Baiklah, @ku pikir, dimulailah cerita ini.   

Sekarang kamu mungkin memperoleh kesan kalau Siska dan @ku adalah sepasang ibu rumah tangga yang genit.   Kamu mungkin berpikir, kalau kami seperti seorang gadis remaja berumur sekitar lima belas tahun yang sedang menggosip.   @ku berumur 38 tahun tapi mungkin mempunyai sedikit pengalaman dibanding putriku yang berumur enam belas tahun dan para temannya.   Sedikit latar belakang tentangku.   @ku dijuluki wanita mungil yang cantik.   Dengan postur tubuhku yang kecil, @ku dengan mudah akan hilang kalau berada dalam sebuah kerumunan.   @ku harus meng@kui menjadi ‘agak kecil’ sering jadi bahan godaan teman-temanku.   Di samping ukuran kecilku, kupikir @ku mempunyai wajah yang manis.   Br@ku hanya berukuran 28A tetapi pada dad@ku terlihat cukup besar dan @ku sering dipuji kalau pantat dan kakiku sangat indah.   Siska dan @ku pergi dengan rutin ke tempat kebugaran wanita.   Suamiku dan @ku lulus dari sekolah menengah dengan nilai memuaskan, menikah tidak lama sesudah kami lulus.   Kamu pasti sudah mengira itu.   @ku tidak pernah mencium orang lain selain suamiku.   Maksudku ciuman serius.   @ku tidak menganggap diriku sangat sopan tetapi @ku tidak pernah berkata kotor.   Tidak juga saat Tom dan @ku sedang berhubungan seks, yang tak terlalu sering.   Seks pada dasarnya adalah bagaimana kita membuat bayi.   

Sekitar lima belas tahun perkawinan, @ku mulai merasa resah dan bosan.   Ini bukan berarti @ku tidak mencintai dua anak perempuanku dan Tom.   Segalanya sangat normal.   @ku mulai membaca novel roman, dan kemudian akan merasa berdosa tentang pemikiran pemikiran tidak tulus itu.   Dalam minggu setelah pertemuan dengan Siska itu, dia dan @ku akan kadang-kadang tertawa genit atas ‘penglihatanya’ akan kemaluan Martin Sihombing (@ku masih tidak katakan hal-hal seperti penis meskipun dengan Siska).   Tom dan @ku juga mengenal keluarga Sihombing, hanya percakapan antar tetangga tentang rumput halaman, cuaca, dan lain lain.   Pada bulan Desember, asosiasi mengadakan sebuah acara makan malam dan dansa sebelum liburan.   Tempat duduknya diatur sesuai dengan urutan rumah.   Sehingga keluarga Sihombing berada di meja yang sama dengan kita.   Siska ada pada meja yang berbeda.   Ini adalah pertama kalinya kami berada dengan mereka secara sosial.   

Sekarang @ku selalu pikir Martin Sihombing terlihat sangat biasa.   Mungkin dalam umur sekitar limapuluhnya dengan rambut penuh, beruban di beberapa tempat.   Dia sangat jangkung.   Ini adalah pertama kalinya @ku lihat dia memakai jas, dan @ku harus meng@kui dia terlihat juga berbeda.   Silvi pada sisi lain, yang selalu nampak tak peduli dengan pakaiannya terlihat aneh dalam gaun panjangnya, krah bajunya tinggi.   Makan malam dilewati dengan percakapan yang menyenangkan dan makanannya sangat enak.   Sesudah makan malam, musik mulai dimainkan dan Martin dan Silvi langsung berada di lantai dansa itu.   Setelah @ku sedikit membujuk Tom untuk berdansa tetapi dia hanya tahu dua gaya dansa.   Martin dan Silvi bergabung lagi dengan kami saat band sedang istirahat sejenak.   Saat band kembali, Martin mengajakku untuk berdansa.   @ku mencoba untuk menolaknya, mengatakan kalau Tom dan @ku tidak begitu pandai berdansa.   Dia memaksa.   Itu adalah sebuah dansa yang cepat dan dia segera membuatku mengikuti tiap-tiap gerakannya.   Lagu berakhir, @ku menuju ke arah kursiku dan kembali mendengar dia mengajakku lagi untuk lagu berikutnya.   

Oh, @ku tidak bisa.   Kamu dan Silvi terlalu bagus untukku, berdansalah dengan isterimu.   Lusi, jangan coba menolak.   Dia sudah membuat kakiku kecapaian, @ku pikir Marty perlu berganti pasangan dalam tiap lagu.   Silvi berteriak dari mejanya.   Baiklah, rasa engganku hanya melintas dalam kepal@ku tapi @ku kembali ke lantai dansa menikmati Martin yang bergerak di sekelilingku.   Lagunya berakhir, dan dia memegang tanganku dengan enteng ketika lagu berikutnya mulai.   Ini satu lagu slow Lusi, kamu gimana dengan waltz tanyanya saat dia dengan lembut menarikku ke dalam posisi dansa.   Dia tidak menarikku terlalu rapat, dia memegangku dengan enteng dan dia meluncur di sekitar lantai itu.   Dia adalah seorang pedansa yang sangat baik.   Tanpa menyadari itu, @ku ditarik semakin dekat padanya, tubuhku sedikit menggeseknya.   Kepal@ku rebah di dadanya, payudar@ku merapat di bagian tengah tubuhnya.   Kemudian @ku merasakan itu.   Itu keras, itu sedang menekan perutku.   Wow! Itu adalah kemaluannya, kemaluannya yang ereksi.   @ku yakin itu.   

@ku mundur, sedikit melompat, hanya refleks.   Kamu tidak mau merasakan ereksinya pria asing.   Dia tetap menari seolah-olah tidak ada yang terjadi.   Dia tidak lagi menarik @ku mendekat, tidak membuat @ku merasa gelisah.   @ku mulai meragukan pemikiranku, itu hanya s@ja imajinasiku yang berlebihan.   @ku bersandar padanya lagi.   Seperti sebelumnya, payudar@ku bersentuhan dengannya, @ku merasakan menggesek tubuhnya.   Kemudian perutku juga.   Kali ini @ku tidak mundur dengan seketika.   @ku hanya ingin pastikan bahwa apa yang sedang @ku rasakan adalah kemaluannya.   @ku menggerakkan badanku, menggosok perutku ke dia, itu terasa keras.   Itu memang benar kemaluannya, kemaluannya yang ereksi.   Wow! Apa yang sedang kul@kukan, pikirku.   Dansa berakhir.   Dia tetap memegang tanganku tapi kali ini @ku menarik dia kembali ke meja kami.   Sudah cukup.   Tidak ada lagi dansa dengan dia pikirku.   Tidak ada yang nampak berubah setelah makan malam dan dansa itu.   Kita tetap mempunyai ‘percakapan antar tetangga’ yang sama dengan keluarga Sihombing itu.   @ku tidak menceritakan kepada Siska apa yang telah terjadi.   Baiklah, satu hal telah berubah.   @ku menemukan diriku memikirkan tentang dansa itu, tentang Siska yang melihat penisnya, tentang perasaan payudar@ku yang tergesek tubuhnya.   

Tahun baru hampir tiba.   Sebagian dari pemilik rumah mulai membicarakan rencana Pesta Tahun Baru.   Hanya sekitar separuh dari kelompok yang memutuskan untuk mel@kukannya, maka kita akhirnya membuat pesta dan musik di dalam aula rekreasi masyarakat.   Tom menyukai gagasan tersebut sebab dia tidak begitu suka pergi ke luar.   Makanannya seadanya s@ja yang disajikan setelah itu kita putar sebuah rekaman tua dan berdansa.   @ku katakan pada diriku agar tidak mengulangi peristiwa di pesta sebelumnya, tetapi saat Silvi meminta dengan tegas bahwa @ku harus memberinya kesempatan istirahat setelah berdansa dengan suaminya dan @ku tidak bisa katakan tidak padanya.   Sama dengan dulu, musik mulai dengan lagu yang cepat dan kemudian seseorang menggantinya dengan sebuah nomor lambat.   Seakan seperti ada setan kecil yang sedang duduk di bahuku dan berkata, ‘L@kukan Lusi’.   Akhirnya @ku tidak menentangnya ketika Martin meletakkan tangannya pada pinggangku dan mulailah kita bergerak di lantai itu.   Seseorang mematikan lampunya.   Saat ini kami berpakaian secara informal.   Sebagai ganti setelan yang k@ku, Martin mengenakan celana santai dan kaos polos.   @ku memakai sebuah blus dan rok panjang.   Kali ini saat payudar@ku mulai menggosok pada tubuhnya @ku bisa merasakan panas tubuhnya.   Puting susuku mengeras dan @ku pikir dia pasti bisa merasakannya.   Perutku adakalanya menabraknya, menabrak kemaluan yang lurus keras yang pernah @ku rasa sebelumnya.   Satu lagu berganti yang lain, sebuah nomor lambat yang lain.   

Setiap kali perutku menggosok penisnya, @ku bisa merasakan tangannya pada pinggangku, dengan pelan menarikku mendekat.   Tidak pernah kasar, tidak pernah lebih dari sekedar sebuah remasan yang lembut.   Sepanjang waktu itu dia selalu bicara seolah-olah itu tidak terjadi, seolah-olah @ku tidak sedang menggosokkan payudar@ku pada tubuhnya, seolah-olah kemaluannya yang keras tidak sedang menekan ke perutku.   Yang akhirnya, saat lagu hampir berakhir, @ku mundur dengan kasar dan sungguh-sungguh.   “Oops, maafkan @ku Lusi.   Kamu berdansa dengan sangat baik membuat @ku lupa kalau kita belum pernah berdansa bersama selama bertahun-tahun.   @ku tidak bermaksud sedekat ini.  ” dia kembali memegang lenganku saat menatap mat@ku.   “Maafkan @ku.   @ku tidak bermaksud untuk melompat mundur seperti tadi.   Maksudku @ku benar-benar menikmati berdansa denganmu.   Hanya @ku, uh.  .   Yah, @ku tidak ingin kamu mempunyai pikiran yang salah.  .   Maksudku.  .  ” “Itu kesalahanku Lusi.   @ku t@kut saat seorang pria berada dekat dengan seorang perempuan cantik ada seuatu yang terjadi.   @ku yakin kamu secara kebetulan pernah mengalami itu sebelumnya.  ” dia tertawa kecil.   “Nggak apa-apa.   @ku tahu pria tidak bisa menghindarinya.   Meskipun sudah sering terjadi.   Maksudku @ku jarang berdansa.  ” @ku merasa cara bicar@ku gagap.   “Kita bisa pergi duduk jika kamu ingin berhenti.   Tetapi @ku harus mengatakan pada kamu itu akan mengakhiri dans@ku malam ini.   Mata kakinya Silvi sakit dan dia bilang pad@ku kalau dia sedang tidak ingin berdansa.  ” “Yahh, @ku tidak ingin jadi ratu pesta.   @ku hanya tidak ingin kamu mempunyai pemikiran yang salah.  ” “@ku hanya mempunyai kesan yang terbaik tentang kamu Lusi.   Betapapun, kita berdua adalah orang dewasa dan memahami peristiwa yang tertentu itu hanya reaksi biologis yang wajar.   @ku tidak bisa mencegahnya dan harus ku@kui ini merupakan sebuah kehormatan ada seorang perempuan cantik yang mau berdansa denganku malam ini.   Tetapi @ku berjanji untuk menjaga batas diantara kita.  ” kata-katanya mengalir keluar diiringi oleh tawa kecil.   

Musik berbunyi lagi dan secara otomatis kami mulai dansa lambat yang lain.   “Apakah kamu benar-benar berpikir @ku pintar berdansa? Atau kamu berusaha menjadi seorang gentleman?” “@ku pikir kamu pintar berdansa Lusi.   Jelas nyata kamu jarang berdansa tetapi iramamu sempurna.  ” Badan kami saling bersentuhan.   Dia bergerak jelas agar tak saling bersentuhan.   “Jangan cemas Martin.   Kamu tidak harus begitu setiap kali kita bersentuhan.  ” @ku bergerak merapat padanya.   @ku ingin merasakan tubuhku yang menekan tubuhnya, menekan kemaluannya.   Segera s@ja kita berdansa dengan rapat.   Saat @ku menggosok perutku terhadap ‘kekerasannya’, tangannya di pinggangku dengan lembut menarikku.   @ku bisa merasakan puting susuku mengeras, dia pasti bisa merasakan itu saat menekan tubuhnya.   @ku bisa merasakan gerakan ereksinya saat perutku menggosok dia.   @ku merasa kehangatan diantara kakiku saat tubuhku menjadi bergairah.   @ku tahu bahwa celana dalamku sudah menjadi basah.   @ku serasa berada di surga kesenangan.   @ku merasa kalau @ku sangat jahat tapi @ku sedang menikmati itu.   Kemudian musik berakhir.   

Kami bergabung kembali dengan Silvi dan Tom di meja itu.   Hampir tengah malam.   Tepat tengah malam semuanya bersorak dan berteriak.   @ku mencium Tom panjang dan dalam, sebagian karena @ku merasa bersalah tentang dansa bersama Martin tadi, tentang gesekan pada ereksinya, dan menekankan payudar@ku padanya.   Martin dan Silvi yang berada di sebelah kami, saling berpelukan mesra.   @ku bisa lihat tangan Martin pada pantatnya, dengan jelas menariknya merapat padanya dan @ku tahu bahwa dia sedang menggelinjang pada ereksinya yang keras.   Mereka merenggang dan Silvi merebut Tomku dan memeluknya, dia telah memutar Tom sedemikian rupa sehingga punggungnya berada di depanku.   Martin berbisik ‘Bolehkah saya’ saat dia membuka lengannya.   @ku memeluknya dan mengijinkan dia menciumku, kemudian saat @ku merasa tangannya pada pantatku.   @ku membuka mulutku dan mendapatkan sebuah ‘French-Kiss’, merasakan dia menarikku semakin merapat padanya @ku merasakan lagi ereksinya yang keras.   Kemudian selesai.   Malam itu @ku mendapat mimpi basah yang liar.   @ku belum pernah bermimpi seperti itu sejak @ku berumur sepuluh tahun.   Paginya @ku mempunyai mimpi buruk mengerikan dari apa yang telah @ku l@kukan.   Terima kasih surga untuk Siska.   @ku cerita padanya dan dia senang mendengarkannya.   Kita memutuskan bahwa tidak ada yang buruk yang telah terjadi.   Sekali lagi, @ku pikir, benar begitu, tidak ada.   Sekalipun begitu @ku masih mendapatkan diriku memikirkan dansa itu, tentang ciuman itu.   

Sepertinya @ku bertemu Silvi dan Martin lebih sering setelah tahun baru.   @ku sekarang tahu bahwa pekerjaan Martin membuatnya sering pergi ke luar kota, untuk urusan mebel mereka.   Sebagai sampingannya dia membeli perhiasan dari daerah yang di kunjunginya, yang dia jual ke beberapa toko lokal.   Ini @ku ketahui saat @ku bilang ke Silvi kalau ibuku telah mengirimiku uang untuk membeli sebuah kalung.   “Lusi, datanglah kemari dan lihat apa yang Marty punyai.   Dia membawa beberapa barang dari luar kota.   Jika dia punya sesuatu yang kamu suka, kamu akan membayar seperempat dari apa yang David jual di tokonya.   Ini bukan barang rongsokan, dilapisi perak dan emas.   Dan tidak kelihatan seperti barang murahan, ini adalah yang mereka ekspor ke luar negeri.  ” “@ku tidak bisa.  ” “Tentu kamu bisa.   @ku memaksamu.   Jika kamu tidak temukan yang kamu sukai, jangan merasa sepertinya kamu harus membeli apapun.   Dia tidak punya masalah menjual barang barang ini ke David.   Dia akan pulang pada siang hari, mampirlah nanti.  ” 

@ku mengetuk pintu mereka sekitar jam 12:15.   “Masuk, masuk.   Waktu yang tepat.   Marty baru s@ja tiba dirumah dan @ku bilang padanya kamu mungkin ingin beberapa perhiasan.   Marty”.   Silvi berteriak saat dia mengantarku ke meja ruang makan.   “Tunggu sebentar, @ku hampir keluar dari kamar mandi.  ” @ku mendengar suara Martin dari atas.   
“Sayang, bawa kalungnya biar dia dapat melihatnya saat kamu selesai.  ” “OK, ok.  ” Dengan segera Martin muncul membawa dua buah koper.   Rambutnya kusut dan basah dan dia mengenakan sebuah jubah mandi putih yang hanya sampai di lutut.   “Halo Lusi.   @ku harap @ku punya apa yang kamu sukai.   @ku membawa beberapa emas dan perak.  ” katanya saat dia berdiri di seberang meja di depanku membuka koper itu.   Kemudian dia memutar koper ke arahku dan mulai melangkah pergi.   “Oh! Tunggulah sebentar sayang.   Tunjukkanlah pada Lusi bagaimana cara membaca sertifikat yang menjelaskan isi perhiasan ini.  ” Dia berbalik, duduk di depanku.   Dia mengambilt sebuah kalung beserta sebuah dokumen kecil.   @ku tidak bisa berkonsentrasi pada kalung, semua yang bisa kupikir adalah cerita tentang Siska yang melihat menembus kaca meja.   Deja vu! 

Martin sedang bicara, @ku tidak sedang mendengarkannya.   Koper itu menghalangi pandanganku.   Tanpa berpikir, @ku menggesernya ke samping.   Sekarang dia sedang memegang kalung itu dan @ku menatapnya.  .   Lebih memperhatikan tetapi benar-benar sedang memperhatikan pada kemaluannya.   Itu sama persis seperti yang Siska ceritakan.   Kakinya terbuka lebar, dia duduk di pinggir kursi.   Kemaluannya tergantung terayun-ayun saat dia bergerak.   Itu terlihat sangat besar buatku.   @ku merasa wajahku mulai terasa hangat dan menyadari bahwa wajahku pasti merah.   Suara Silvi menghentikan tatapan mat@ku.   “Dengar sayang, @ku harus pergi belanja.   Jika kamu telah dapat apa yang Lusi inginkan lebih baik kamu berikan padanya.   Lusi sayang, maafkan @ku, @ku lupa kalau @ku harus pergi tapi kamu ditangan ahlinya dengan Marty.   Sampai jumpa sayang, @ku akan kembali sekitar jam setengah tujuh.  ” dan dia pergi ke pintu keluar.   
“Sampai jumpa sayang.  ” “Katakan pad@ku jika kamu lihat apapun yang kamu suka.  ” kata Marty saat dia menyebar beberapa kalung di atas meja itu.   

Menyebarnya sedemikian rupa sehingga garis pandangku pada kalung-kalung itu juga searah pada daging pisang berwarna yang panjang berayun di bawah.   Siska telah mengatakannya menyerupai sebuah pisang besar.   Itu bahkan mempunyai sebuah ujung seperti sebuah pisang.   “A.  .   A.  .   @ku ng.  .   Tidak tahu.  .   Ini jauh lebih dari yang @ku harapkan.  ” 
“Jangan cemas Lusi.   Jika kamu tidak lihat apa yang kamu suka, @ku paham.   @ku tidak pernah memaksa barang-barangku pada seseorang.   Santai s@ja.   Kadang-kadang hanya manis untuk dilihat s@ja.  ” @ku lihat dia mengedip saat @ku melihat ke arahnya.   “Ini, bagaimana jika kita mencoba yang ini pada lehermu dan kamu dapat lihat bagaimana ini terlihat di kulitmu?” katanya saat dia bangkit dengan sebuah kalung emas besar yang indah di tangannya.   “OK, barangkali itu sebuah ide yang bagus.  ” @ku melihat dia bergerak, jubahnya sekarang sedikit terbuka saat dia berdiri dan bergerak, penisnya mengayun keluar masuk dari sudut pandangan.   

@ku duduk hampir membeku, memperhatikan diriku pada cermin di dinding.   Memperhatikan Martin sekarang berdiri di depan bahuku, memasangkan kalung di leherku.   @ku melihat di cermin jubahnya yang terbuka, penisnya sekarang tersentuh lengan tanganku, langsung bersentuhan karena blus tak berlengan yang @ku kenakan.   “Bagaimana, kamu suka Lusi? Ayo, peganglah.   Sudah pernahkah kamu melihat yang seperti ini?” “Tidak.   Belum pernah.   Ini sangat besar.   @ku belum pernah melihat yang sebesar ini.  ” @ku menggerakkan kepal@ku ke samping saat @ku bicara, menatap pada kemaluannya yang menggesek bahuku, mengamati kantung buah zakarnya untuk pertama kali.   Itu juga besar.   Besar tetapi lebih lembut dibanding kantong berkerut Tom.   

“Terimakasih.   @ku pikir kemungilanmu yang cantik membuatnya nampak lebih besar.   Sentuhlah kalau kamu ingin.  ” 
“Kal.  .   Eh.  .   Benda ini?” “Apapun yang kamu inginkan, Lusi.   Kamu ingin merasakannya, ya kan?” “Uh huh.  ” @ku menggenggamkan jariku melingkarinya.   @ku merasakannya mulai mengeras pada sentuhanku.   @ku pernah dengar kemaluan yang belum di sunat tapi @ku belum pernah melihat sebelumnya.   Saat itu mengeras @ku lihat kulitnya menyingkap.   @ku menyingkap dengan lemah-lembut dan melihat kulitnya menarik kembali memperlihatkan sebuah mahkota yang tinggi.   “Apa itu melukai kamu?” “Kebalikannya Lusi, sentuhanmu terasa nikmat.   Apa kamu belum pernah melihat sebuah penis yang belum disunat?” @ku menatapnya.   “Tidak disunat.  ” “Oh Tuhan.   Martin tolong jangan tertawakan @ku.   Satu-satunya kemaluan yang telah kulihat hanya milik Tom.   Dan bahkan saat dia sedang ereksi tidak seperti milikmu.   @ku tidak pernah mel@kukan sesuatu seperti ini sebelumnya.   Apakah itu benar jika @ku hanya merasakan kemaluanmu dan melihatnya?” “Lusi, Lusi sayang.   Kamu adalah sebuah harta karun seutuhnya.   @ku tidak pernah akan menertawakan kamu.   Kamu adalah sebuah bunga yang menunggu untuk mekar.   L@kukanlah, remas penisku, rasakan bagaimana kamu membuatnya keras, tapi tolong sebut ini dengan penis bukan kemaluan” 
“Oh brengsek, kamu pasti berpikir @ku adalah orang bodoh atau yang semacam itu.   @ku merasa seperti seorang idiot.   Maafkan @ku, @ku tidak ingin menggoda, benar-benar tidak.   Bukan berarti @ku tidak bisa berhubungan seks atau apapun yang seperti itu.   Hanya s@ja @ku tidak pernah berada di dalam situasi seperti ini.  ” @ku jelaskan panjang lebar sekarang, menjatuhkan penisnya seperti sebuah kentang panas.   “Lusi, tenang.   Percayalah pad@ku, @ku tidak berpikir kamu adalah seorang yang bodoh atau apapun yang seperti itu.   L@kukanlah, ini adalah kesempatanmu untuk merasakan sebuah penis.   Ambil kesempatanmu.  ” dia menempatkan tanganku kembali pada penisnya, menggenggam jarinya ke jariku.   
“Katakan penis, Lusi.   Katakanlah apa yang sedang kamu pikirkan.   Hanya kocok sedikit” ketika tangannya memandu tanganku dalam sebuah gerakan mengocok.   

@ku menyaksikan dengan tertarik saat tangannya memandu tanganku yang pelan-pelan mengocok ke atas-bawah pada batang yang keras itu.   @ku melihat kulitnya menyingkap memperlihatkan bagian atas kepala yang dimahkotai saat kocokanku bergerak ke bawah dan kemudian pada kocokan ke atas, kulitnya membungkus kepalanya dan membentuk sebuah ujung yang berkerut.   Tangannya melepaskan lenganku.   @ku melanjutkan mengocok penisnya seperti terhipnotis.   @ku menekannya.   @ku bisa merasakan penisnya yang menjadi lebih keras.   @ku meremasnya lebih keras dan dalam pikiranku @ku sedang berkata ‘ penis’ berulang kali.   Kemudian @ku mengucapkannya.   “Penismu jadi sangat keras.   Rasanya sangat hangat.   @ku ingin meremas penismu.  ” dan tiba-tiba @ku ingin katakan semua kata-kata yang selama ini ku tabukan.   Perkataan penis nampak membuatnya lebih erotis lagi.   “Umm, ya.   Remas Lusi.  ” tangannya kini meluncur ke balik blusku.   Tekanan lengan tangannya pada wajahku membawa pipiku bersentuhan dengan penisnya.   

@ku memandangi cermin di seberang kami.   @ku belum pernah melihat diriku yang sedang berhubungan seks.   Sekarang @ku menjadi sangat terangsang saat @ku melihat diriku menggosok penisnya pada pipiku, melihat kancing blusku terbuka saat tangannya menuju ke payudar@ku.   Blusku terbuka.   Tangannya menyelinap masuk br@ku.   Jarinya menjepit puting susuku.   @ku tidak bisa percaya bagaimana nikmatknya rasanya.   Bagaimana sangat erotisnya.   Bagaimana sangat sangat bersalah tetapi sangat sangat menggairahkan.   Tangannya memaksa br@ku turun, puting susuku jadi terlihat.   @ku melihat ke atas dan melihat Martin yang sedang menatap ke cermin juga.   “Kamu mempunyai puting susu yang menakjubkan Lusi.   Mereka sangat keras, sangat besar.   Mereka seperti permata merah muda di atas bukit.   Apakah kamu suka mereka dijepit?” “Ya.   Itu rasanya enak.   @ku suka mereka dijepit dengan keras.  ” @ku melihat di dalam cermin, blusku tersingkap hingga perut, sebelah payudar@ku terekspose penuh sedang br@ku tetap menutup yang sebelahnya.   Tangan Martin memegang putingku, ibu jari dan jari telunjuknya berputar, menarik, menekan puting susuku.   @ku melihat tanganku yang mengocok penis tebalnya, menggosoknya pada pipiku.   @ku melihat cairan precumnya keluar sedikit dari lubang kencingnya kemudian dia mengamati saat @ku mengoleskan precumnya ke pipiku.  .   

@ku memalingkan wajahku menghadap penisnya, mengamati precum yang pelan-pelan membentuk tetesan yang lain.   @ku menggosokkan ibu jariku di ujung penisnya, menikmati genangan dari precum itu ketika @ku menekan kepala penisnya.   Menjadikan kepala penisnya berkilauan.   @ku menggosok penisnya pada pipiku lagi.   @ku merasa tangan Martin yang bebas berada di kepal@ku, merasa dia memutar kepal@ku dengan lembut.   Penisnya meluncur melewati pipi dan menggosok bibirku.   Secara naluri @ku membuka mulutku, mulai menjilat kepala kerasnya yang hangat.   @ku melanjutkan mengocok penisnya ketika mulutku mengulum kepala itu.   Itu bahkan nampak lebih besar sejak @ku menghisapnya.   
“Umm, yaa.   Gerakkan lidahmu Lusi.   Tuhan, rasanya enak.   Bermain-mainlah dengannya sayang.   Jilat naik turun batang itu.   Umm, nikmat.  ” Kujalankan lidahku naik turun sepanjang batang itu.   Penisnya kini berkilauan dengan air liurku.   Saat mulutku berada pada buah zakarnya, dia mengangkat penisnya sedemikian rupa sehingga buah zakarnya menggosok daguku.   @ku belum pernah menjilat buah zakar seseorang, tetapi @ku tahu apa yang dia inginkan.   Itu apa yang juga @ku inginkan.   @ku ingin bermain-main dengan kantong besar itu.   @ku mulai menjilat buah zakarnya saat penisnya berada tepat di wajahku.   @ku bisa merasakan panas dari penisnya di wajahku.   

Martin menarik blusku yang tersisa melewati bahu.   Ketika melepaskannya dari badanku, dia melepaskan br@ku juga, yang mengikuti blusku jatuh ke lantai.   @ku mengerling ke cermin itu.   Memandang dan merasa tangan besarnya menc@kup payudara kecilku.   @ku kembalikan tatapanku pada penisnya, ketika jarinya dengan lembut mulai memutari puting susuku.   @ku melihat pembuluh darah biru yang panjang di sepanjang batang itu.   @ku sapukan lidahku sepanjang pembuluh darahnya, dan kemudian menekan kepala penisnya untuk membuka lubangnya sedemikian rupa sehingga @ku bisa memeriksanya dengan lidahku.   “Tuhan kamu mempunyai puting susu yang keras Lusi.   Apa kamu suka mereka dihisap? Katakanlah apa yang kamu inginkan, @ku ingin membuat kamu merasakan nikmat seperti yang kamu l@kukan untukku.  ” “Dijepit, ya yang keras.   Dan hisap, gigit putingku.  ” @ku berbisik dengan penisnya yang menyentuh bibirku.   
“Bagus.   @ku suka menghisap puting.  ” dia tertawa saat menarikku berdiri pada kakiku.   

Saat @ku melepaskan genggamanku pada penisnya dia berlutut di depanku.   Mulutnya menelan satu payudara, dia mulai menghisap selagi lidahnya menjilat puting susuku.   Tangannya pada punggungku, memelukku erat, membelaiku saat dia menghisap payudara yang kiri kemudian berganti yang sebelah kanan.   Saat dia menghisap dalam mulutnya, @ku bisa merasakan lidahnya yang menjilat, kemudian ketika mulutnya mundur, giginya dengan lembut menggigit puting susuku.   Dia memegang puting susuku diantara giginya dan menjalankan ujung lidahnya.   Tuhan, itu terasa nikmat.   Saat dia bekerja pada putingku, tangannya meluncur menuju ke pinggulku.   Kulepas kancing celana panjangku.   Celana panjang dan celana dalamku dilepasnya sekaligus.   Sama sekali tanpa berpikir tentang itu, @ku melangkah keluar dari pakaianku yang terakhir.   Dia masih menghisap, menggigiti puting susuku saat tangannya sekarang membelai kaki dan pantatku.   Secara naluriah @ku melebarkan kakiku, mengundang tangannya pada vagin@ku.   Larangan terkhirku menguap ketika Martin mulai mengelus vagin@ku.   

@ku memandangnya, melihat bibirnya bekerja di sekitar payudar@ku.   @ku melihat putingku tertarik keluar saat ia menghisap dan menggigit dan menarik puting susuku dengan mulut dan giginya.   @ku melihat tangannya menggosok vagin@ku.   @ku melihat jarinya menghilang lenyap ke dalam rimbunan rambut lebatku.   Merasa jarinya meluncur menyentuh vagin@ku.   Saat dia menggerakkan jarinya keluar masuk, @ku menggelinjang.   “Terasa enak?” dia tersenyum.   “Ya, ya.  ” “Umm, dan rasanya enak juga.  ” katanya saat menarik jarinya dan menjilatnya, dan kemudian menyodorkan jarinya kepad@ku untuk dijilat.   @ku belum pernah merasakan diriku sendiri.   Jika itu pernah terjadi kepad@ku, @ku yakin @ku akan menganggap itu adalah sebuah tindakan yang menjijikkan.   Tetapi sekarang @ku menjilat jarinya dan merasa kagum bahwa @ku menyukai itu.   “@ku pikir vagina ini memerlukan sebuah jilatan yang bagus.   Kamu suka vaginamu dioral, ya kan? Tidak pernah ada seorang perempuan yang tidak menyukainya” @ku suka itu.   Hanya s@ja itu tidak sering terjadi.   Tetapi sekarang @ku menginginkannya lebih dari yang pernah ada.   Dia mengangkatku ke atas meja, mendudukkanku pada tepinya.   @ku membuka lebar kakiku mengundang mulutnya kepada bibirku.   Menempatkan jariku pada vagina, @ku melebarkannya terbuka, menarik rambutnya ke samping.   @ku merasa sangat erotis saat @ku membayangkan pandangannya pada vagin@ku, daging merah muda yang basah yang kini terpampang karena bibirnya yang terbuka.   @ku gemetaran saat merasakan lidahnya mulai menjilat celahku.   Lidahnya menekan ke dalam vagin@ku dan memukul-mukul ke atas menyebabkan getaran yang sangat indah ketika diseret melewati kelentitku.   “Oh, Tuhan, ya, ya ya.  ” 

Dia membenamkan wajahnya ke dalam vagin@ku, lidahnya manari di dalamnya.   Dia mulai menggosok kelentitku seiring dengan jilatannya pada vagin@ku.   @ku mendorong pinggulku menekannya, menggeliat di atas meja.   Kulingkarkan kakiku di lehernya, lebih mendorongnya pad@ku.   @ku melihat dia menguburkan wajahnya ke dalam vagin@ku semakin dalam.   @ku mendengar bunyi dia menghirup, menghisap cairanku.   “Oohh.  ” @ku menjerit dan menggelinjang.   @ku mendapat sebuah orgasme yang sangat indah.   Ini membuatnya bekerja lebih keras pada vagin@ku, sekarang mengisap kelentitku ketika jarinya disodokkan ke dalam vagin@ku.   @ku merasa seperti terbakar.   Sekujur tubuhku terasa geli.   Vagin@ku sedang diregangkan.   @ku tahu bahwa dia sedang menekan jari yang lain ke dalam vagin@ku.   Ketika vagin@ku pelan-pelan menyerah kepada jari yang ditambahkannya, @ku tahu apa yang berikutnya.   @ku menginginkan itu.   @ku ingin merasakan penis besarnya di dalamku.   @ku tahu dia perlahan menyiapkan @ku untuk itu.   “Martin.   @ku menginginkannya.   @ku menginginkan kamu.   @ku t@kut itu terlalu besar tapi @ku menginginkan itu.  ” “Jangan t@kut Lusi.   @ku sangat lembut.  ” Dia mengangkatku, membawa @ku menuju sebuah kamar.   @ku melingkarkan lenganku padanya.   @ku menciumnya sepanjang jalan menuju kamar, menghisap lidahnya, mendorong lidahku ke dalam mulutnya.   Dia menempatkanku di atas tempat tidur, mengambil sebuah gel pelumas dari lemari kecil di samping tempat tidur “Buka kakimu melebar,” dia berkata saat menekan pelumas dari tabungnya kemudian menggosokannya ke dalam vagin@ku.   

Terasa dingin, dan dia menyelipkan dua jari ke dalam vagin@ku.   Mereka masuk dengan mudah.   @ku memegang tangannya dan membantu jarinya bekerja di dalam vagin@ku.   “Sekarang giliranmu.  ” dia berkata saat berbaring pada punggungnya.   “Lumasi mainanmu.  ” dia tersenyum.   @ku melihat pada penisnya.   Itu masih terlihat sangat besar buatku.   Masih setengah ereksi.   Itu terletak lurus ke arah kepalanya, kepala penisnya sampai menyentuh pusarnya.   @ku menyemburkan gel ke penisnya, membuat sebuah garis zig-zag sepanjang batangnya, seperti menghias sebuah kue pikirku.   Dia tertawa.   @ku mulai menyebarkan gel dengan jari tengahku.   Penisnya terasa hangat, jariku menekan ke dalam daging itu.   Saat @ku menjalankan jariku naik turun pada batangnya, @ku merasa penisnya menjadi lebih keras.   @ku menyukai itu.   @ku menyukai menjadikan penisnya keras.   @ku menggenggam penisnya dengan ibu jari dan jari tengahku, menekan gel lebih banyak lagi dan melumuri seluruh penisnya.   “Ke atas.  ” dia menginstruksikan.   @ku memandangnya.   “Kamu ke atas, dengan begitu kamu dapat mengendalikan penisku.   Gosok s@ja ke vaginamu, bermainlah dengan itu, l@kukan pelan-pelan.  ” @ku mengayunkan kakiku di atasnya, mengangkanginya, @ku menunduk untuk menciumnya.   “Itu terasa nikmat.   Gosokkan puting susumu yang keras pad@ku.   Gesekkan vaginamu sepanjang penisku.  ” 

Lengannya melingkariku, menarikku mendekat, dengan lembut tetapi kuat, memaksa puting susuku ke dadanya.   Puting susuku jadi sangat keras dan sensitif.   @ku menggerakkannya pelan-pelan maju-mundur, membelainya dengan puting susuku dan menikmati kehangatan dari badannya.   @ku bisa merasakan penisnya beradu dengan pantatku.   @ku bergerak mundur untuk membiarkan penisnya meluncur diantara kakiku.   @ku bisa merasakan batang itu meluncur sepanjang bibir vagin@ku.   Tidak menembus, @ku hanya menggesek naik turun batang yang keras itu, menikmati sensasi yang baru ini dari penis keras dan besar yang menekan ke dalam bibir vagina telanjangku, menikmati rasa dari puting susuku yang menyentuh sepanjang badannya.   Kemudian dia mendorongku kembali pada posisi duduk.   “Masukkan Lusi.  ” @ku mengangkat batang tebal itu dan menggosok kepalanya pada vagin@ku, kemudian menekannya berusaha untuk memasukkannya.   @ku melihat kepala yang tebal membelah bibirku hanya untuk menyeruak masuk dalam lubangku.   “Oh Tuhan, Martin, ini terlalu besar.   @ku tidak akan pernah dapat menampungnya di dalamku.  ” 

Dia menempatkan satu jari di dalam vagin@ku dan pelan-pelan mulai mengocok jarinya saat @ku tetap memegangi penisnya.   Saat @ku mengamati, @ku lihat dia dengan lemah-lembut menekan jari keduanya ke dalam vagina basahku.   @ku bisa merasakan peregangan dan mulai ‘mengendarai’ jarinya.   Kemudian dia memasukkan jari yang ke tiga, memutar jarinya saat dia meregangkan vagin@ku.   Kemudian dengan sebuah gerakan lembut, dia menarik jarinya, memegang tanganku yang sedang menggenggam penisnya dan menuntunnya ke arah lubangku yang sudah membuka.   “L@kukan sekarang Lusi.   Duduk di atasnya.   Vaginamu telah siap, biarkan s@ja masuk.  ” @ku mel@kukannya.   Ket@kutanku bahwa itu akan menyakitkan lenyap saat @ku merasa kepalanya membelah vagin@ku.   Dibandingkan rasa sakitnya, @ku mendapatkan rasa yang sangat nikmat dari tekanan pada vagin@ku.   Sebuah perasaan menjadi terbentang dan diisi.   Dia mulai memompa ke dalamku dengan dorongan dangkal, setiap dorongan menekan masuk semakin ke dalam vagin@ku.   Penisnya nampak bergerak lebih dalam dan semakin dalam, menyentuhku di mana @ku belum pernah disentuh.   Kemudian @ku sadar bahwa penisnya sedang memukul leher rahimku.   

Sekarang penisnya terkubur di dalamku dia menggulingkan @ku, menarik kakiku pada bahunya.   @ku belum pernah membayangkan bagaimana erotisnya ini, melihat dan mengamati penis yang besar pelan-pelan meluncur keluar masuk tubuhku.   Tetapi kemudian, @ku menjadi lebih terbakar pada setiap hentakan.   “Oh Tuhan! Oh ya! Setubuhi @ku! Lebih keras Martin lebih keras.  ” Dia mulai ke menyetubuhiku lebih cepat, lebih keras, dengan sela sebentar-sebentar saat penisnya dikuburkan dalam di dalamku.   Dan setiap kali dia berhenti dengan penisnya jauh di dalamku, @ku akan menggetarkan diriku ke dia sampai akhirnya @ku mendapatkan orgasme kedu@ku hari ini, Sebuah orgasme yang hebat sekali! Dan @ku ingin lebih.   Dan @ku senang merasakan penisnya masih keras, masih menyetubuhiku.   “Gadis baik, Lusi.   Lepaskanlah.  ” “Oh Tuhan ya.  ” “Kamu menyukainya kan sayang, suka sebuah penis yang besar mengisi vagina kecilmu yang ketat.  ” dia kini menyetubuhiku dengan hentakan yang panjang dan kuat.   “Oh ya, benar, betul.   Setubuhi @ku.   Kerjai vagin@ku.   Setubuhi @ku, setubuhi @ku, setubuhi @ku.  ” 
“@ku akan keluar di dalam tubuhmu.   Katakan kamu ingin sperm@ku.  ” “Ohh Tuhan, @ku ingin kamu orgasme, @ku mau spermamu.   Ohh itu sangat besar.   Rasanya nikmat.   Ya, keluarlah! Oh brengsek, @ku orgasme lagi Martin.   Setubuhi @ku dengan keras.   Kumohon, lebih keras.  ” Ia mengerang, menghentikan kocokan penisnya keluar masuk, dan hanya menguburkan dirinya sangat dalam di vagina basah panasku.   Ia mengandaskan dirinya ke dalamku dan @ku tahu dia sedang orgasme.   @ku berbalik menekannya, berusaha untuk mendapatkan penisnya sedalam-dalamnya pad@ku.   Kemudian @ku keluar lagi.   Ombak kesenangan yang sangat indah menggulung seluruh tubuhku.   

@ku merasa tubuhnya melemah, tapi dia tidak mengeluarkan penisnya dariku.   @ku pikir @ku bisa merasakan penisnya melembut di dalam vagin@ku sekalipun begitu vagin@ku masih terasa nikmat dan penuh, sangat hangat dan basah.   @ku menunjukkan padanya dengan sebuah ciuman.   Kami hanya rebah di sana.   @ku tahu @ku sedang ‘terkunci’.   @ku bisa merasakan sedikit rasa bersalah yang merambat ke dalam pikiranku tapi @ku tahu bahwa @ku menyukai disetubuhi oleh penis yang besar.   @ku tahu @ku menyukai berkata kotor.   Kemudian gelembung itu nampak meretak.   “Baiklah, apa pendapatmu tentang Lusi? Apa Marty terasa manis seperti kelihatannya?” Silvi, berdiri di pintu.   “Astaga.  .   Silvi.  .   A.  .   @ku.  .  ” @ku masih belum dapat menggambarkan semua ini.   Semua yang bisa kupikir adalah bahwa @ku baru s@ja tidur dengan suami perempuan lain.   “Lusi, tenang sayang.  ” Silvi memotongku.   “@ku tidak marah.   @ku senang melihat kamu telah menyadari kalau kamu suka penis yang besar.  ” dia tersenyum.   “Andai @ku bisa tinggal untuk menyaksikan keseluruhan peristiwa ini tapi kami pikir kamu akan jadi lebih nyaman dengan cara begini.  ” “Sebagian orang tidak menerima seks hanya untuk kesenangan tetapi Silvi dan @ku sudah menemukannya berhasil untuk kami.   Dia pikir kalaua kamu adalah seorang perempuan yang sedang kekurangan kesenangan maka kami piker kenapa tidak membuka pintu dan melihat jika kamu ingin masuk.   @ku berharap kamu tidak marah.   @ku berharap kamu akan kembali.  ” Martin menggulingkan @ku dan kini membelai badanku saat dia dan Silvi bicara.   

@ku mencoba untuk katakan sesuatu, “@ku bukan perempuan seperti itu.   Ini adalah sebuah kekeliruan.   @ku kira kita harus melupakan kalau ini pernah terjadi.  ” tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku.   @ku hanya meraih dan membelai penis Martin yang besar dan lembut.   Silvi duduk di tempat tidur, menciumku pelan.   “Berbagi adalah menyenangkan Lusi.   Dan kita semua adalah ‘pelacur kecil’ jauh di dalam bawah sana, ya kan?” ‘Pelacur’ kata itu berderik di dalam pikiranku.   Tuhan, @ku adalah seorang pelacur, ya kan? Dan @ku tidak peduli, @ku hanya tahu bahwa @ku ingin berhubungan seks dengan penis yang besar ini lagi.   Maka begitulah bagaimana cerita ini bermula.   Tom yang malang tidak tahu kenapa @ku berteman baik dengan Martin dan Silvi.   Tom masih suka berhubungan badan tiap seminggu sekali atau dua kali tetapi @ku masih susah merasakan dia di dalamku.   

E N D

Download Full Image