Kupacu kuda binalku mendaki lereng terjal y@ng penuh kenikmatan

17441 views

Cerita Seks Dewasa | Agen Asuransi Y@ng Curhat – Ketika aku pulang dari kantor suasana jalanan masih macet. Alamat kantorku berada di daerah Harmoni. Hanya pada jam-jam sibuk tentu saja akan macet total. Langit telah terlihat mendung, namun dugaanku sore sampai malam ini tidak akan turun hujan. Dg langkah sedang @ku keluar kantor dan berjalan ke arah Juanda, rencana naik bis dari sana saja. Maklum karyawan baru, jadi masih naik Mercy dg kapasitas besar. Pembaca http://ceritasex.link/ baca cerita selanjutnya seperti : 

Sampai di Juanda @ku cari bis kota tujuan ke Senen. Sebentar kemudian datang bis kota y@ng telah miring ke kiri. @ku naik dan menyelinap ke dalam. Aroma di dalam baswey sungguh luar biasa. Segala macam aroma ada di sana. Mulai dari parfum campur keringat sampai bau asap dan lain-lainnya. Tak lama @ku sampai di Senen. Turun di Pasar Senen dan masuk ke dalamnya. Ada beberapa barang y@ng harus kucari. Putar sana putar sini nggak ketemu juga y@ng kucari. Malahan digodain sama kapster-kapster di salon lantai II. Dg kata-kata y@ng menjurus mereka merayuku untuk masuk ke salonnya. Kubalas saja godaan mereka, toh @ku juga lagi nggak ada keperluan ke salon. Sekedar membalas dan menyenangkan mereka y@ng merayu untuk sekedar gunting, facial / creambath.
Kupacu kuda binalku mendaki lereng terjal y@ng penuh kenikmatan
Akhirnya kuputuskan untuk cari di Atrium saja. @ku nyeberang di dekat jembatan lay@ng. Memang budaya tertib sangat kurang di negara ini. Senangnya potong kompas dg mengambil resiko.
Baru saja kakiku melangkah masuk ke dalam Atrium, mat@ku tertuju pada seorang wanita setengah baya, kutaksir umurnya tiga puluh lima tahun. Ia mengenakan blazer hijau dg blouse hitam. Pandangannya kesana kemari dan gelisah seolah-olah menunggu seseorang. @ku lewat saja di depannya tanpa ada suatu kesan khusus. Sampai di depannya dia menyap@ku. “Maaf Mas mengganggu sebentar. Jam berapa sekarang?” tanyanya halus. Dari logatnya kutebak dia orang Jawa Tengah, seQtar Solo. “Aduh, sorry juga Mbak, saya juga tidak pakai jam,” sambil kulihatkan pergelangan tanganku. “Mbak mau kemana, kok kelihatannya gelisah?” tany@ku lagi. “Lagi tunggu teman, janjian jam setengah lima kok sampai sekarang belum muncul juga” jawabnya. “Ooo. . ” komentarku sekedar menunjukkan sedikit perhatian. “Mas mau kemana, baru pulang kantor nih?” dia balik bertanya. “Iya, mau beli sesuatu, tadi cari di Proyek nggak ada, kali-kali aja ada di Atrium”. Akhirnya meluncurlah dari mulut kami beberapa pertanyaan basa-basi standar. “Oh ya dari tadi Qta bicara namun belum tahu namanya, saya Vera,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Anto,” sahutku pendek, “OK Vera, saya mau jalan dulu cari barang y@ng saya perlukan”. “Silakan, saya masih tunggu teman di sini, barangkali dia terjebak macet / ada halangan lainnya”. Kami berpisah, saya masuk ke dalam dan langsung ke Gunung Agung. Kulihat Vera masih menunggu di pintu Atrium. Setengah jam keliling Gunung Agung ternyata tidak ada barang y@ng kucari. Kuputuskan pulang saja, besok coba cari di Gramedia / Maruzen. @ku keluar dari pintu y@ng sama waktu masuk, arah ke Proyek. Kulihat Vera masih juga berdiri di sana. Kuhampiri dia dan kutanya. “Masih ada disini, belum pulang?”. “Ini mau pulang, besok aja kutelpon dia ke kantor,” jawabnya.

Waktu itu, tahun 2000, HP masih menjadi barang mewah y@ng tidak setiap orang bisa memilikinya. “Mbak naik apa?” “Oh, saya bawa mobil sendiri, meskipun butut”. “OK, kalau begitu saya pulang, saya naik Mercy besar ke Kampung Melayu”. Dia kelihatan agak berpikir. Baru pada saat ini @ku mengamati dia dg lebih teliti. Tingginya kutaksir 158 cm, kulitnya kuning kecoklatan, khas wanita Jawa dg perawakan seimbang. Rambutnya berombak sebahu, matanya agak lebar dan dadanya standar, 34. “Kenapa, something wrong?” kat@ku. “Nggak, nggak @ku juga mau jalan lagi suntuk. Rumah saya di Cinere, jam segini juga lagi full macet” sambil memandangku dg tatapan y@ng sulit kutafsirkan. “Boleh saya temani,” sahutku asal saja. Jujur @ku hanya asal berkata saja tanpa mengharap apapun. Dia menatapku sejenak dan akhirnya. . “Boleh saja, kalau nggak mengganggu” jawabnya. Kami menuju basement tempat parkir mobilnya. Dia memberikan kunci mobilnya pad@ku. “Bisa bawa mobil kan?” tanyanya. @ku terkejut, karena @ku memang bisa nyetir mobil namun masih belum lancar sekali dan tidak punyai SIM. “Aduh, so. . Sorry, jangan @ku y@ng bawa. @ku nggak punya SIM,” kat@ku mengelak.
“Baiklah kalau begitu, biar @ku sendiri y@ng bawa,” katanya sambil tersenyum. Vera naik mobil dan membukakan pintu sebelah kiri depan dari dalam. Mobilnya Suzuki Carry warna merah maron. Kulihat di atas jok tengah berserakan map dan kertas. “Kemana Qta?” katanya. “Terserah ibu sopir saja, asal jangan ke Bogor, jauh” sahutku bercanda. “Qta ke Monas saja deh” katanya sambil terus tetap menyetir. Karena dia mengenakan rok span selutut, jadinya waktu duduk menyetir agak ketarik ke atas, pahanya terlihat sedikit. @ku menelan ludah. Monas terlihat sepi sore ini, jam di dashboard menunjukkan 17. 55. Hanya ada beberapa mobil y@ng parkir di pelataran parkir. Vera memarkir mobilnya agak jauh dari mobil lainnya. Ia mematikan kontak dan membuka jendela. Kami tetap duduk di dalam mobil. “Uffh, hari y@ng melelahkan”. Vera menyandarkan tubuh dan kepalanya pada jok mobil. Blazernya tidak dikancingkan sehingga dadanya kelihatan menonjol. “Ngomong-ngomong Mas Anto ini kerja di mana?” “Karyawan swasta, kantornya di Harmoni, Mbak Vera sendiri di mana?” balasku. “Saya agen sebuah Asuransi BUMN, rencananya tadi dg teman saya, Dewi, akan prospek di sebuah kantor di Kramat, makanya janjian di Atrium. Eh, dianya nggak datang. Eh, bagaimana kalau Qta masing-masing panggil dg nama saja tanpa sebutan basa-basi supaya lebih akrab. Toh umur Qta nggak jauh berbeda. @ku tiga puluh lima, kutaksir kamu paling-paling tiga puluh”. Ternyata taksiranku tepat, taksirannya meleset. Waktu itu umurku sendiri baru dua puluh lima. Mungkin karena warna kulitku agak gelap dan berkumis maka wajahku kelihatan lebih tua. Namun menurut teman-temanku baik perempuan /pun laki-laki, dg wajah cukup ganteng, tinggi 170 cm, perawakan tegap, berkumis dan dada berbulu @ku termasuk idaman wanita.

Vera ternyata seorang janda dg satu anak. Ketika kutanya kenapa dia bercerai, air mukanya berubah dan ia menghela napas panjang. “Telahlah, itu kenangan buruk dari masa laluku, tak usah dibicarakan lagi” katanya. “Baiklah, maaf kalau telah menyinggung perasaanmu,” kat@ku. Senja semakin merambat, lampu jalan telah mulai dinyalakan mengalahkan temaram senja. Di bawah lampu merkuri wajah Vera terlihat pucat. Tiba-tiba saja kami bertatapan. Vera terlihat sangat lelah, namun bibirnya dipaksakan tersenyum. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja tangan kananku telah kulingkarkan di lehernya dan kurengkuh ia ke dalam pelukanku. Kucium bibir tipisnya dan ia membalasnya dg melumat bibirku lembut. Kami saling memandang dan tersenyum. “Anto, maukah kamu menemaniku ngobrol?” “Lho, bukankah sekarang ini Qta lagi ngobrol”. “Maksudku, Qta cari. . Nggh. . Tempat y@ng tenang”. Kucium bibirnya lagi dan ia membalas lebih panas dari ciuman y@ng pertama tadi. Tanpa kujawab mestinya ia telah tahu. “Ayo Qta berangkat,” ajaknya sambil menghidupkan mesin mobil. “Baiklah Qta ke arah Tanah Abang saja yuk,” jawabku. Dari Monas kami menuju ke Tanah Abang. Kami sempat terjebak kemacetan di seQtar Stasiun Tanah Abang. Akhirnya kuarahkan dia ke Petamburan. Kulihat dia ragu-ragu untuk masuk ke halaman sebuah hotel. “Ayolah masuk saja, nggak apa-apa kok. Hotelnya cukup bersih dan murah” kat@ku meyakinkannya. “Bukan apa-apa. @ku hanya tidak ingin mobilku terlihat secara mencolok di halaman hotel” sahutnya. Akhirnya kami menbisakan tempat parkir y@ng cukup terlindung dari jalan umum. Setelah membereskan urusan di front office, kami masuk ke dalam kamar. Kuamati sejenak keadaan di dalam kamar. Di dinding sejajar dg arah ranjang dipasang cermin selebar 80 cm memanjang sepanjang dinding. @ku tersenyum dan membatin rupanya hotel ini memang dipersiapkan khusus untuk pasangan y@ng mau kencan.
“Kamu sering masuk ke sini, To? Kelihatannya telah familiar sekali” tanyanya. “Nggak juga. Namanya nginap di hotel kan tahapannya standar aja. Lapor ke front office, serahkan ID, bayar bill untuk semalam lalu ambil kunci kamar. Beres kan?” “Kalau lagi prospek, bagaimana pengalamanmu. Sering dijahili klien nggak” tany@ku memancing. “Yahh, ada juga y@ng iseng. Namun kalau orangnya oke, boleh juga sih. Telah bisa komisi plus tip plus enak gila”.

Ternyata beginilah salah satu sisi dunia asuransi. Saya nggak menghakimi, tenamun semua itu kembali tergantung pada orangnya. “Aduh, kalau begitu saya nggak bisa kasih tip. Qta pulang saja yuk” kat@ku pura-pura serius. “Huussh. . Kamu kok nganggap saya begitu sih”. Kami berbaring berjejer di ranjang y@ng empuk. Vera tengkurap di sebelahku dan menatapku sejenak, lalu ia mendekatkan mukanya ke muk@ku dan mencium bibirku. @ku membalas dg perlahan. Vera terus menciumiku sambil melepas blazernya. Kaki kirinya membelit kakiku. Tangannya merayap di atas kemej@ku dan mulai melepas kancing serta menariknya sehingga dad@ku terbuka. Vera semakin terangsang melihat dad@ku y@ng berbulu. Ia membelai-belai dad@ku dan sekali-sekali menarik perlahan bulu dad@ku.

“Simbarmu iku lho To, bikin @ku. . Serr” bisiknya. Simbar adalah sebutan bulu dada dalam bahasa Jawa. “Mandi dulu yuk” kat@ku. “Nggak usah, nanti aja. Bau tubuhmu lebih merangsang daripada bau sabun bahkan parfum” katanya. Bibirnya bergeser ke bawah dan kini ia menciumi leherku. @ku menggelinjang kegelian sekaligus nikmat. Napas kami mulai berat dan memburu. Sambil terus menciumi dad@ku, Vera melepaskan blousenya. Kulihat buah dadanya y@ng masih kenyal dan padat terbungkus bra warna merah jambu. Seksi sekali. Tangannya bergerak ke bawah, membuka kepala ikat pinggangku, melepas kancing celana dan menarik ritsluitingku dan langsung menariknya ke bawah. @ku sedikit mengangkat pantatku membantu gerakan tangannya membuka celan@ku. Kini tangannya bergerak ke belakangnya, tidak lama kemudian roknya telah merosot dan hanya dg gerakan kakinya rok tersebut telah terlepas dan terlempar ke lantai. Tangan kananku bergerak ke punggungnya dan terdengar suara “tikk” kancing pengait branya telah terlepas. @ku melepas branya dg sangat perlahan sambil mengusap-usap bahu dan lengannya. Vera mengangkat tangannya dari tubuhku dan akhirnya terlepaslah bra merah jambu y@ng dipakainya. Buah dadanya berukuran sedang, taksiranku 34 saja, terlihat kenyal dan padat. Urat-uratnya y@ng membiru di bawah kulit terlihat sangat menarik seperti alur sungai di pegunungan. Putingnya y@ng merah kecoklatan menantangku untuk segera mengulumnya. Payudara sebelah kanan kuisap dan kukulum, sementara sebelah kirinya kuremas dg tangan kananku, demikian berganti-ganti. Tangan kiriku mengusap-usap punggungnya dg lembut.

Vera mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit kecil dan kujilat-jilat. “Ououououhh. . Nghgghh, Anto teruskan. . Ouuhh. . Anto” Payudaranya kukulum habis sampai ke pangkalnya. Vera menghentakkan kepalanya dan menjilati teling@ku. @kupun telah merangsang hebat. Senjat@ku telah mengeras dan kepalanya telah nongol di balik celana dalamku. Vera melepaskan diri dari pelukanku dan kini ia y@ng aktif menjilati dan menciumi tubuhku bagian atas. Dari leher bibirnya menyusuri dad@ku, menjilati bulu dad@ku dan. . “Oukhh, Vera. . Yachh. ” @ku mengerang ketika mulutnya menjilati puting kiriku. Kini bibirnya pindah ke puting kananku. @ku mendorong tubuhnya, tak tahan dg rangsangan pada puting kananku. Vera semakin ke bawah, ke perut dan terus ke bawah. Digigitnya meriamku y@ng masih terbungkus celana dalam. Tangannya juga bergerak ke bawah, menarik celan@ku sampai ke lutut dan akhirnya menariknya ke bawah dg kakinya. @ku tinggal memakai kemeja saja y@ng kancingnya juga terbuka semua.

Vera memandangku dan mengangguk ketika kepalanya ada di atas selangkanganku. @ku juga mengangguk. @ku memang tidak pernah meminta wanita y@ng kutiduri untuk mel@kukan oral sex. @ku sendiri tidak terlalu suka mel@kukan oral sex pada setiap wanita. Ada type-type wanita tertentu y@ng kuberikan service khusus ini. Jika mereka mau mel@kukannya biarlah mereka y@ng berinisiatif. Kepalanya kemudian bergerak ke bawah. Ia mengisap-isap buah zakarku dan menjilatinya sampai ke titik 2 cm di dekat anusku. @ku baca titik itu adalah titik Kundalini. @ku tidak tahan dg perl@kuannya. Kututup muk@ku dg bantal. Kugigit bibir bawahku sampai terasa sakit. Tiba-tiba meriamku seperti kena setrum y@ng besar ketika lidah Vera menjilat kepalanya. Secara refleks kukencangkan otot perutku sehingga meriamku juga ikut bergerak-gerak. Puny@ku memang tidak terlalu besar. Rata-rata saja untuk ukuran umum, namun ternyata beberapa wanita y@ng pernah merasakannya sangat puas. Kulepas bantal y@ng menutup muk@ku dan kubuka mat@ku. Kulihat Vera dg asyiknya menjilat, menghisap dan mengulum meriamku. Kadang-kadang ia melihat ke arahku dan tersenyum kecil. @ku terpekik kecil setiap lidahnya y@ng runcing menjilat lubang kencingku. Syaraf-syarafku di sana terasa mau putus.

Vera melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan tangannya melepas celana dalamnya sendiri dg cepat. Kembali bibirnya menyambar bibirku. Kubalas dg ganas dan kudorong lidahku menggelitik rongga mulutnya. Lidahku kemudian diisapnya dg kuat. @ku hampir tersedak. Tangannya mengembara ke selangkanganku dan kemudian meremas dan mengocok meriamku. Meriamku semakin tegang dan keras. “Ouououhhkk. . Puaskan @ku. Berikan @ku kenikmatan” ia memekik tertahan. Tidak lama kemudian tangannya memegang erat meriamku dan kurasakan pantat dan pinggul Vera bergerak-gerak menggesek meriamku. Dan kemudian. . Blesshh. Kepala meriamku masuk ke dalam gua kenikmatannya. Terasa lembab namun masih kering dan sempit. Kurasakan dinding guanya berdenyut-denyut meremas kemaluanku. “Akhh. . Oukkhh” Vera mendongakkan kepalanya dan kujilati lehernya y@ng berada di depan wajahku. Ia terus menggoy@ngkan pantatnya sehingga sedikit demi sedikit makin masuk dan akhirnya semua batang meriamku telah terbenam dalam guanya. Vera menahan tubuhnya dg kedua tangannya di sampingku. Pantatnya bergerak maju mundur untuk menangguk kenikmatan. Kadang gerakannya berubah kadang menjadi ke kanan ke kiri dan kadang berputar-putar. Sesekali gerakannya menjadi pelan dan pantatnya naik agak tinggi sehingga hanya kepala meriamku berada di bibir guanya dan bibir guanya kemudian berkontraksi mengurut kepala meriamku. Kemudian ia hanya pelan menggesek-gesekkan bibir guanya pada kepala meriamku sampai beberapa kali dan kemudian dg cepat ia menurunkan pantatnya hingga seluruh batang meriamku tenggelam seluruhnya. Ketika batang meriamku terbenam seluruhnya badannya bergetar dan kepalanya bergoy@ng ke kanan dan kekiri. Napasnya mulai tersengal-sengal dan memburu.

Kunaikkan punggungku dg bertopang pada siku. Kuisap puting buah dadanya y@ng telah membatu. Gerakannya semakin liar dan berat. Tanganku kini memeluk punggungnya seolah-olah seperti menggantung pada badannya. Kulengkungkan bagian atas tubuhku mendekat ke tubuhnya. Berat badanku kutumpukan pada punggungku. Tangannya y@ng menahan berat badanya kemudian dilepaskan dan memeluk diriku rapat-rapat. Kini gerakannya pelan namun sangat terasa. Pantatnya naik ke atas kadang sampai meriamku lepas, namun kemudian ia menurunkan lagi dg pelan dan kusambut dg gerakan pantatnku ke atas. Kembali meriamku menembus guanya, guanya berdenyut sehingga seluruh batang meriamku mulai dari pangkal hingga ke ujung seperti diurut. Baru kali ini @ku merasakan denyutan dinding vagina y@ng begitu kuat. Ada beberapa wanita y@ng bisa mel@kukannya namun kali ini benar-benar luar biasa. Melebihi wanita Madura y@ng pernah kurasakan. @ku sendiri belum mengerahkan otot kemaluanku untuk berkontraksi, kubiarkan saja sampai ia mencapai puncak terlebih dahulu.

Tangannya meremas dan menjambak rambutku, punggungnya melengkung menahan kenikmatan. Mulutnya merintih dan mengerang keras. Kupikir mungkin terdengar sampai keluar kamar. Emangnya gua pikirin! Paling y@ng dengar jadi kepengin. “Anto. . Ouhh Anto, @ku mau nyampai, @ku mau kelu. . ar” “Sshh. . Shh” “Anto sekarang ouhh. . Sekarang” ia memekik. Tubuhnya mengejang rapat diatasku dan kakinya membelit kakiku. Mulutnya mencari-cari bibirku dan kusambar agar ia tidak merintih terlalu keras lagi. Vaginanya berdenyut kuat sekali dan pantatnya menekan ke bawah dg keras hingga meriamku terasa sakit. Vaginanya terasa becek, namun tidak menyembur seperti y@ng banyak diceritakan orang. Kupikir mereka itu pembohong kalau menceritakan orgasme wanita y@ng sampai memancar seperti air mani. Kupeluk punggungnya dan kuurut dg kuat mulai dari belakang leher sampai ke pinggangnya. Tubuh Vera mulai melemas di atas badanku. Keringatnya menitik di sekujur pori-porinya. Kemaluanku y@ng masih menegang keras di dalam vaginanya. Vera sepertinya sengaja membiarkannya dalam posisi seperti itu. “Terima kasih Anto. Kau sungguh hebat sekali. @ku nggak tahan lagi” ia berbisik di teling@ku. @ku diam saja sambil mengelus-elus punggungnya. Kuciumi rambutnya. Kupikir akan kupuaskan dia sampai tak bertenaga.

Akhirnya Vera bangun setelah napasnya teratur menghela napas dalam-dalam. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan kudengar suara shower. Namun kedengarannya ia tidak mandi, hanya membasuh vaginanya saja. Sementara @ku mencoba memejamkan mata sebentar untuk berkonsentrasi dan mengumpulkan tenaga. Ia keluar sambil menenteng gayung, sabun dan handuk. Dg perlahan ia membasuh dan membersihkan kemaluanku y@ng masih agak tegang karena belum mencapai puncaknya. Karena terkena air, maka kemaluanku kontan saja mengkeret dan mengecil ke ukuran normal. Vera kembali ke dalam kamar mandi mengembalikan gayung dan sebentar keluar lagi. @ku duduk menyelonjorkan kaki di atas ranjang dan merapikan kemeja y@ng tetap kupakai selama bercinta babak pertama tadi. Vera memelukku dari belakang dan menciumi tengkukku. @ku merinding oleh ciumannya. Tangannya mempermainkan bulu dad@ku. Kelihatannya ia sangat suka. Vera menarik kemeja y@ng kukenakan dan akhirnya sekarang @ku bugil 100%. Dadanya y@ng keras menekan punggungku. Kuputar tubuhnya sedemikian sehingga kami berhadapan. Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya. Ia merintih, nafsunya mulai bangkit. Kubalikkan lagi tubuhnya sehingga membelakangiku. Kuciumi tengkuk, cuping telinga dan leher belakangnya. “Ouhh jangan kau siksa @ku. . Ayo Qta lanjutkan lagi say. . ” Kami kembali berbaring miring ke kiri dalam posisi Vera tetap membelakangiku. Kuremas dadanya dg kuat, kupilin putingnya. Kemaluanku y@ng belum menembakkan pelurunya dg cepat mengeras kembali. Mulutnya mencari bibirku ketika bibirku menjilati lehernya pada bagian samping. Kami berciuman dalam posisi miring.

Kuangkat kaki kanannya dan kucoba memasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya dari belakang. Beberapa kali kucoba dan gagal. Akhirnya Vera mencondongkan pantatnya dan menjauhkan tubuh bagian atasnya dari tubuhku. Dalam posisi demikian @ku bisa menembus guanya meskipun dg berjuang keras. Kudorong pantatku maju mundur dg pelan namun bertenaga. Meskipun tanpa kontraksi dalam posisi demikian terasa sempit sekali vaginanya. Kuputar tubuhnya hingga ia berada di atasku. Dari bawah kugenjot vaginanya. Kupikir tadinya akan mudah, ternyata sangat sulit. Tubuhku tidak bisa bergerak dg leluasa. Vera mengerti kesulitanku. Ia melepaskan pelukanku dan berjongkok tetap membelakangiku. Tak berapa lama kembali ia memainkan kontraksi otot vaginanya. @ku tetap membiarkannya ia kontraksi sendirian.

Vera menaikturunkan pantatnya dan rasa nikmat menjalari tubuh kami berdua. Kadang pantatnya menggantung dan giliranku untuk memompa dari bawah. Demikian dalam posisi ini kami bertahan beberapa saat sampai akhirnya. “Gila kamu To, @ku keluar lagi. . Oukhh” Ia berteriak dan melengkungkan badannya, lalu merebahkan badannya telentang dan menekan kemaluanku sampai amblas. Tangannya mencengkeram sprei. Sunyi sejenak tanpa ada suara apapun kecuali napas Vera y@ng terengah-engah. Vera memutarkan tubuhnya tanpa melepaskan kemaluanku, sehingga ia bisa berada dalam posisi berhadapan di atasku. “Luar biasa kamu Anto, @ku puas sekali malam ini” “@ku y@ng belum puas, kini giliranku menbisakan kepuasan”. Kugulingkan badannya sehingga kini @ku y@ng berada di atas mengendalikan permainan. Kusodokkan kemaluanku ke dalam kemaluannya dg satu hentakan keras sehingga ia melenguh. “Uuuhh. . Tahan dulu To, @ku masih lelah” katanya. @ku tak pedulikan permintaannya, tetap kusodokkan kemaluanku dg pelan dan mantap sampai akhirnya kemaluanku menjadi sangat keras. Vera akhirnya kembali terangsang setelah beberapa saat kugerakkan kemaluanku. Kucabut kemaluanku, kutahan dan kukeraskan ototnya kemudian pelan-pelan kugesekkan dan kemudian kumasukkan kepalanya saja ke bibir guanya y@ng lembab dan merah. Vera terpejam menikmati kontraksi kemaluanku pada bibir kemaluannya. “Kenapa dari tadi nggak kau mainkan. . Hggk”.

Dia menjerit tertahan ketika tiba-tiba kusodokkan kemaluanku sampai mentok ke rahimnya. Kumaju mundurkan dg pelan setengah batang sampai beberapa hitungan kemudian kusodokkan dg kuat sampai semua batangku amblas. Vera menggerakkan pinggulnya memutar dan naik turun sehingga kenikmatan y@ng luar biasa sama-sama kami rasakan. Kusedot payudaranya sampai ke pangkalnya dan kumainkan putingnya dg lidahku. Dalam posisi kemaluanku terbenam seluruhnya @ku diam di atas tubuhnya, menciumi bibir, leher dan payudaranya serta menggerakkan otot kemaluan. Hasilnya luar biasa. Vera seperti orang y@ng mau menangis menahan kenikmatan hubungan ini. Vera mengimbanginya dg kontraksi pada dinding vaginanya. Ia meringis dan memukul-mukul dad@ku seperti histeris. “Auuhkhh. . Terus. . Teruskan. . Anto. . Nikmat. . Ooh” Kini kakiku berada di luar kedua kakinya sehingga kedua kakiku menjepit kakinya. Masih tetap dalam posisi diam, hanya otot kemaluan y@ng bekerja. Ternyata vaginanya memang luar biasa, meskipun telah becek namun cengkeramannya masih sangat ketat.

@ku menghentikan kontraksiku dan mulai menggenjot lagi. Vera seperti seekor kuda betina y@ng melonjak-lonjak tubuhnya dan sukar dikendalikan. Akhirnya tidak ada suara apapun di dalam kamar itu selain desah napas kami y@ng memburu beradu dg suara paha bertemu dan derit ranjang. Keringat telah membanjir di tubuh kami. Kupacu kuda binalku mendaki lereng terjal y@ng penuh kenikmatan. Kami saling memagut, mencium dan menjilat bagian tubuh lawan bergumul. Kubuka lagi kedua kakinya, kini kakinya y@ng membelit pinggangku. Matanya kadang terpejam kadang terbeliak. Badannya seperti menggantung di tubuhku. Kini @ku siap untuk menembakkan peluruku. “Vera, sebentar lagi Ver. . @ku mau keluar”. “Tungu say@ng, Qta sama-sama, tunggu. . “. . . Beberapa saat kemudian. . “Sekarang Ver sekarang. . Ouuhh” @ku mengejang ketika lahar kepuasan membersit dari kepundan kejantananku. “Anto. . Agghh” kakinya menjepit kakiku dan mengejang sehingga kejantananku seperti tertarik mau keluar. @ku tetap menahan agar kemaluanku tetap berada dalam vaginanya. Matanya terpejam, tangannya meremas rambutku, mulutnya menggigit dad@ku. Kemaluan kami saling berdenyut sehingga kenikmatan puncak ini terasa sampai beberapa detik. Setelah beberapa saat kemudian keadaan menjadi tenang. “Luar biasa kamu To, @ku bisa tiga kali orgasme” “Kamu juga hebat, empot ayammu membuat ketagihan”

Akhirnya kami membersihkan diri dan check out. Sebelum keluar kamar kami saling bertukar nomor telepon. @ku menumpang mobilnya sampai di Gatot Subroto dekat Hilton. Vera ke arah Blok M dan @ku ke kawasan Jakarta Timur. Beberapa hari kemudian di kantor @ku dikejutkan suara operator y@ng nongol di ruanganku. “Pak Anto ada telepon dari asuransi, line 2,” katanya. “Thanks”. Kuambil gagang telepon, “Hallo, siang” kat@ku. “Hai Anto ingat @ku?” terdengar suara dari seberang. “Oh tentu, kuda binalku. Ada apa?” “Kemarin habis nurunin kamu, ban mobilku kempes, untung ada y@ng nolongin” “Habis kamu nyetirnya terlalu bernafsu, injak gas nggak kira-kira” kat@ku. Apa hubungannya gas dg ban kempes ya? “Nanti sore ketemu lagi ya. @ku telah nggak sabar menanti hasil kerjamu” Nanti sore kupikir boleh juga. Hari ini nggak banyak pekerjaan kok. Cerita kejadian nanti sore pikir dan bay@ngkan saja sendiri.
E N D

Tags: #cerita seks #Cerita Sex #curat sex #curhat asmara #curhat cinta #curhat duda #curhat janda #curhat remaja

Download Full Image