Sensasi hebat Tongkat Seorang Satpam

37347 views

Cerita Sex Selingkuh | Sensasi hebat Tongkat Seorang Satpam – Kali ini, aku diminta salah satu pembacaku untuk menuliskan pengalamannya yang ia kisahkan melalui e-mail dan SMS. Nah beginilah kisah selengkapnya yang merupakan petualangan penutur setelah “Sebuah Kesalahan” yang dimuat beberapa bulan lalu.  Bagi yang belum pernah membaca cerita-cerita yang pernah aku kirim, saya akan perkenalkan diri saya; nama saya Reni (samaran),  waktu ini usia 28 tahun.  Kata orang saya memiliki segalanya baik itu kekayaan,  kecantikan dan keindahan tubuh yang menjadi idaman setiap wanita.  Dengan tinggi 166 cm dan berat 50 kg menjadikanku memiliki pesona bagi lelaki mana saja.  Apalagi wajahku boleh dibilang cantik dengan kulit kuning langsat dan rambut sebahu.  Aku telah menikah 2 tahun lebih.  
Sensasi hebat Tongkat Seorang Satpam
Latar belakang keluargaku adalah dari keluarga Minang yang terpandang.  Sedangkan suamiku,  sebut saja Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang. Setelah suamiku menyelesaikan studinya di luar negeri,  aku mengusulkan untuk mengajukan pindah ke kota Padang agar dpt berkumpul lagi dengan keluarga.  Setelah melalui birokrasi yang cukup memusingkan ditambah sogok sana sogok sini akhirnya aku bisa pindah di kantor pusat di Kota Padang.  Pembaca tentu maklum bahwa pada jaman sekarang segala sesuatu harus pakai uang.  Malahan kata orang Jakarta segala sesuatu harus bayar,  dari makan hingga buang kotoran.  Mungkin hanya kentut saja yang belum perlu pakai uang.  (Mungkin kalau sudah ada Undang Undang Lingkungan,  kentut pun musti bayar karena mencemari udara. .  Ya nggakk  ) Sebagai orang baru,  aku tentu saja harus bekerja keras untuk menunjukkan kemampuanku.  Apalagi tugas baruku di kantor pusat ini adalah sebagai kepala bagian.  Aku harus mampu menunjukkan kepada anak buahku bahwa aku memang layak menempati posisi ini.  Sebagai konsekwensinya aku harus rela bekerja hingga larut malam menyelesaikan tugas-tugas yang sangat berbeda waktu aku bertugas di kepulauan dahulu.  Hal ini membuatku harus selalu pulang larut malam karena jarak rumah kami dengan kantor yang cukup jauh yang harus kutempuh selama kurang lebih 30 menit dengan mobilku.  Sehingga aku jarang sekali bercengkerama dengan suamiku yang jg mulai semakin sibuk sejak karirnya meningkat.  Praktis kami hanya bertemu waktu menjelang tidur dan waktu sarapan pagi.  

Atas kebijakan pimpinan,  aku selalu dikawal satpam jika hendak pulang.  Sebut saja namanya Pak Marwan,  satpam yang kerap mengawalku dengan sepeda motor bututnya yang mengiringi mobilku dari belakang hingga ke depan halaman rumahku untuk memastikan aku aman sampai ke rumah.  Dengan demikian aku selalu merasa aman untuk bekerja hingga selarut apapun karena pulangnya selalu diantar.  Tak jarang aku memintanya mampir untuk sekedar memberinya secangkir kopi hingga suamiku pun mengenalnya dengan baik.  Bahkan suamiku pun kerap kali memberinya beberapa bungkus rokok Gudang Garam kesukaannya. Pak Marwan adalah lelaki berusia 35 tahunan.  Tubuhnya cukup kekar dengan kulit kehitaman khas orang Jawa.  Ia memang asli Jawa dan katanya pernah menjadi preman di Pasar Senen Jakarta.  Ia sudah menjadi satpam di bank tempat saya bekerja selama 8 tahun.  Ia sudah berisAstriastuti yang sama-sama berasal dari Jawa.  Akupun sudah kenal dengan isAstriastutinya,  Yu Sarni.  

Suatu hari,  waktu aku selesai lembur.  Aku kaget waktu yang mengantarku bukan Pak Marwan,  tetapi orang lain yang belum cukup kukenal. “Lho Pak Marwan di mana Bang ” tanyaku pada satpam yang mengantarku. “Anu Bu,  Pak Marwan hari ini minta ijin tidak masuk katanya isAstriastutinya melahirkan” katanya dengan sopan. Akhirnya aku tahu kalau yang mengantarku adalah Pak Sardjo,  satpam yang biasanya masuk pagi.  “Kapan isAstriastutinya melahirkan ” tanyaku lagi.  “Katanya sih hari ini atau mungkin besok Bu” jawabnya. Akhirnya hari itu aku pulang dengan diiringi Pak Sardjo.  Awal Perselingkuhan Sudah 2 hari aku selalu dikawal Pak Sardjo karena Pak Marwan tidak masuk kerja.  Hari Minggu aku bersama suamiku memutuskan untuk menjenguk isAstriastuti Pak Marwan di Rumah Sakit Umum.  Akhirnya aku mengetahui kalau Yu Sarni mengalami pendarahan yang cukup parah atau bleeding.  Dengan kondisinya itu ia terpaksa menginap di Rumah Sakit untuk waktu yang agak lumayan setelah post partum.  Atas saran suamiku aku ikut membantu biaya perawatan isAstriastuti Pak Marwan,  dengan pertimbangan selama ini Pak Marwan telah setia mengawalku setiap pulang kerja.  

Sejak waktu itu hubungan keluargaku dengan keluarga Pak Marwan seperti layaknya saudara saja.  Kadangkala Yu Sarni mengirimkan pisang hasil panen di kebunnya ke rumahku.  Walaupun harganya tidak seberapa,  tetapi aku merasa ada nilai lebih dari sekedar harga pisang itu.  Ya,  rasa persaudaraan! Itulah yang lebih berharga dibanding materi sebanyak apapun.  Sering pula aku mengirimi biscuit dan syrop ke rumahnya yang sangat sederhana dan terpencil karena memang rumahnya di tengah kebun yang penuh ditanami pisang dan kelapa.  Karena seringnya aku berkunjung ke rumahnya maka tetangga yang letaknya agak berjauhan sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga Pak Marwan.  

Suatu hari,  waktu aku pulang lembur,  seperti biasa aku diantar Pak Marwan.  Begitu sampai ke depan rumah tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya hingga kusuruh Pak Marwan untuk menunggu hujan reda.  Aku suruh pembantuku,  Mbok Rasmi yang sudah tua untuk membuatkan kopi baginya.  Sementara Pak Marwan menikmati kopinya aku pun masuk ke kamar mandi untuk mandi.  Ini memang merupakan kebiasaanku untuk mandi sebelum tidur. Hujan tidak kunjung reda hingga aku selesai mandi,  kulihat Pak Marwan masih duduk menikmati kopinya dan rokok kesukaannya di teras sambil menerawang memandangi hujan.  Hanya dengan mengenakan baju tidur aku ikut duduk di teras untuk sekedar menemaninya ngobrol.  Kebetulan lampu terasku memang lampunya agak remang-remang yang sengaja kuatur demikian dengan suamiku agar enak menikmati suasana. “Gimana sekarang punya anak Pak  Bahagia kan ” tanyaku membuka percakapan.  “Yach. .  Bahagia sekali Bu. . ! Habis dulu isAstriastuti saya pernah keguguran waktu kehamilan pertama,  jadi ini benar-benar anugrah yang tak terhingga buat saya Bu. . ” “Memang Pak. .  Aku sendiri sebenarnya sudah ingin punya anak,  tetapi. . ” Aku tidak dpt meneruskan kata-kataku karena jengah jg membicarakan kehidupan seksualku di depan orang lain. “Tetapi kenapa Bu. .  Ibu kan sudah punya segalanya. .  Mobil ada. .  Rumah jg sudah ada. .  Apa lagi” Timpalnya seolah-olah ikut prihatin.  “Yach. .  Itu lah Pak. .  Dari materi memang kami tidak kekurangan,  tetapi dalam hal yang lain mungkin kehidupan Yu Sarni lebih bahagia” “Mm maksud ibu. . ” tanyanya terheran-heran.  “Itu lho Pak. .  Pak Marwan kan tahu kalau saya selalu kerja sampai malam sedangkan Bang Ikhsan jg sering tugas ke luar kota jadi kami jarang bisa berkumpul setiap hari.  Sekarang aja Bang Ikhsan sedang tugas ke Jakarta sudah seminggu dan rencananya baru empat hari lagi baru kembali ke Padang” “Yachh. .  Memang itulah rahasia kehidupan Bu. .  Kami yang orang kecil seperti ini selalu kesusahan mikir apa yang hendak dimakan besok pagi. .  Sedangkan keluarga ibu yang tidak kekurangan materi malah bingung tidak dpt kumpul” 

Matanya sempat melirikku yang waktu itu mengenakan pakaian baby doll.  Kulihat jakunnya naik turun melihat kemolekan tubuhku.  Mungkin karena hujan yang semakin deras dan aku yang jarang dijamah suamiku membuat gairah nakalku bangkit. Aku sengaja mengubah posisi dudukku sehingga pahaku yang mulus sedikit kelihatan.  Hal ini membuat duduknya semakin gelisah,  matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah pahaku yang memang sengaja kubuka sedikit. “Sebentar Pak saya ambil minuman dulu” kataku sambil bangkit dan berjalan masuk. Aku sadar bahwa pakaian yang kukenakan waktu itu agak tipis sehingga bila aku berjalan ke tempat terang tubuhku akan membayang di balik gaun tipisku. “Oh ya Pak Marwan masuk saja ke dalam soalnya hujan kan di luar dingin. . ” “I. .  Iya Bu. . ” jawab Pak Marwan agak tergagap karena lamunannya terputus oleh undanganku tadi.  Jakunnya semakin naik turun dengan cepat.  Aku tahu ia tentu sudah lama tidak menyentuh isAstriastutinya sejak melahirkan bulan kemarin,  karena usia kelahiran bayinya belum genap 40 hari.  

Suasana sepi di rumahku ditambah dengan dinginnya malam membuat gairahku bergejolak menuntut penuntasan.  Apa boleh buat aku harus mampu menundukannya.  Pak Marwan sangat terangsang melihat penampilanku yang sangat segar habis mandi tadi.  Akhirnya mungkin karena tidak tahan atau karena udara dingin ia minta ijin untuk ke kamar kecil.  “Eh. .  Anu Bu. .  Boleh minta ijin ke kamar kecil Bu” “Silahkan Pak. .  Pakai yang di dalam saja” “Ah. .  Enggak Bu saya enggak berani” “Enggak apa-apa. .  Itu Pak Marwan masuk aja nanti dekat ruang tengah itu” “Baik Bu. . ” Sambil berdiri ia membetulkan celana seragam dinasnya yang ketat.  Aku melihat ada tonjolan besar yang mengganjal di sela-sela pahanya.  Aku membayangkan mungkin isinya sebesar tongkat pentungan yang selalu dibawa-bawanya waktu berjaga. .  Atau bahkan mungkin lebih besar lagi. Agak ragu-ragu ia melangkah masuk hingga aku berjalan di depannya sebagai pemandu jalan.  Akhirnya kutunjukkan kamar kecil yang bisa dipakainya.  Begitu ia masuk aku pun pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil,  sementara di luar hujan semakin lebat diiringi petir yang menyambar-nyambar.  

Aku terkejut waktu aku keluar dari dapur tiba-tiba ada tangan kekar yang memelukku dari belakang.  Toples kue hampir saja terlepas dari tanganku karena kaget.  Rupanya aku salah menduga.  Pak Marwan yang kukira tidak mempunyai keberanian ternyata tanpa kumulai sudah mendahului dengan cara mendekapku.  Napasnya yang keras menyapu-nyapu kudukku hingga membuatku merinding. “Ma. .  Maaf Bu,  sa. .  Saya sudah tidak tahan. . ” desisnya diiringi dengus napasnya yang menderu.  Lidahnya menjilat-jilat tengkukku hingga aku menggeliat sementara tangannya yang kukuh secara menyilang mendekap ke2 dadaku.  Untuk menjaga wibawaku aku pura-pura marah.  “Pak Marwan. .  Apa-apaan ini. . ” suaraku agak kukeraskan sementara tanganku mencoba menahan laju tangan Pak Marwan yang semakin liar meremas payudaraku dari luar gaunku.  “Ma. .  Af Bu sa. .  Saya. .  Sudah tidak tahan lagi. . ” diulanginya ucapanya yang tadi tetapi tangannya semakin liar bergerak meremas dan ke2 ujung ibu jarinya memutar-mutar ke2 puting payudaraku dari luar gaun tipisku.  

Perlawananku semakin melemah karena terkalahkan oleh desakan nafsuku yang menuntut pemenuhan.  Apalagi tonjolan di balik celana Pak Marwan yang keras menekan kuat di belahan ke2 belah buah pantatku.  Hal ini semakin membuat nafsuku terbangkit ditambah dinginnya malam dan derasnya hujan di luar sana.  Suasana sangat mendukung bagi setan untuk menggoda dan menggelitik nafsuku.Tubuhku semakin merinding dan kurasakan seluruh bulu romaku berdiri waktu jilatan lidah Pak Marwan yang panas menerpa tulang belakangku.  Tubuhku didorong Pak Marwan hingga tengkurap di atas meja makan dekat dapur yang kokoh karena memang terbuat dari kayu jati pilihan.  Waktu itulah tiba-tiba salah satu tangan Pak Marwan beralih menyingkap gaunku dan meremas ke2 buah pantatku.  Aku semakin terangsang hebat waktu tangan Pak Marwan yang kasar menyusup celana dalam nylonku dan meremas pantatku dengan gemas.  

Sesekali jarinya yang nakal menyentuh lubang anusku.  Gila. . !! Benar-benar lelaki yang kasar dan liar.  Tapi aku senang karena suamiku biasanya memperlakukanku bak puAstriastuti waktu bercinta denganku.  Ia selalu mencumbuku dengan lembut.  Ini sensasi lain. . !! Kasar dan liar. .  Apa lagi samar-samar kucium aroma keringat Pak Marwan yang berbau khas lelaki! Tanpa parfum. .  Gila aku jadi terobsesi dengan bau khas seperti ini.  Hal ini mengingatkanku pada waktu aku bermain gila dengan Pak Sitor di kepulauan dahulu. “Akhh. .  Pakk. .  Marsannhh jangg. .  Anhh” desahku antara pura-pura menolak dan meminta.  Ya harus kuakui kalau aku benar-benar rindu pada jamahan lelaki kasar macam Pak Marwan.  Pak Marwan yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi.  Dengan beringas dan agak kasar digigitnya punggungku di sana-sini sehingga membuat aku menggeliat dan menggelepar seperti ikan kekurangan air.  Apalagi waktu bibirnya yang ditumbuhi kumis tebal seperti kumisnya Pak Raden mulai menjilat-jilat pantatku.  “Akhh. .  Pakk. .  Akhh. .  Jang. .  Akhh” kepura-puraanku akhirnya hilang waktu dengan agak kasar mulut Pak Marwan dengan rakusnya menggigiti ke2 belah pantatku!! Luar biasa sensasi yang kurasakan waktu itu.  Pantatku bergoyang-goyang ke kanan dan kiri menahan geli waktu digigit Pak Marwan.  Mungkin kalau disyuting lebih dahsyat dibanding goyang ngebornya si Inul yang terkenal itu. “Emhh. .  Pantat ibu indahh. . ” kudengar Pak Marwan menggumam mengagumi keindahan pantatku.  Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun lidahnya menyelusup ke dalam lubang anusku dan jilat sana jilat sini.  “Ouch. .  Shh. .  Am. .  Ampunnhh” aku mendesis karena tidak tahan dengan rangsangan yang diberikan lelaki kasar yang sebenarnya harus menghormati kedudukanku di kantor.  Aku benar-benar pasrah total.  

Liang vaginaku sudah berkedut-kedut seolah tak sabar menanti disodok-sodok.  Rangsangan semakin hebat kurasakan waktu tiba-tiba kepala Pak Marwan menyeruak di sela-sela pahaku dan mulutnya yang rakus mencium dan menyedot-nyedot liang vaginaku dari arah belakang.  Secara otomatis kakiku melebar untuk memberikan ruang bagi kepalanya agar lebih leluasa menyeruak masuk.  Aku sepertinya semakin gila.  Karena baru kali ini aku bermain gila di rumahku sendiri.  Tapi aku tak peduli yang penting gejolak nafsuku terpenuhi titik! “Ouch. .  Shh. .  Terushh. .  Ohh Pak Marwanhh” dari menolak aku menjadi meminta! Benar-benar gila!! Pantatku semakin liar bergoyang waktu lidah Pak Marwan menyelusup ke dalam alur sempit di selangkanganku yang sudah sangat basah dan menjilat-jilat kelentitku yang sudah sangat mengembang karena birahi.  Aku merasakan ada suatu desakan maha dahsyat yang menggelora,  tubuhku seolah mengawang dan ringan sekali seperti terbang ke langit kenikmatan.  Tubuhku berkejat-kejat menahan terpaan gelora kenikmatan.  Pak Marwan semakin liar menjilat dan sesekali menyedot kelentitku dengan bibirnya hingga akhirnya aku tak mampu lagi menahan sahwatku.  “Akhh. .  Pak Marwannhh akhh. . ” aku mendesis melepas orgasmeku yang pertama sejak seminggu kepergian suamiku ini.  Nikmat sekali rasanya.  
Tubuhku bergerak liar untuk beberapa waktu lalu akhirnya terdiam karena lemas.  Napasku masih memburu waktu Pak Marwan melepaskan bibirnya dari gundukan bukit di selangkanganku.  Lalu masih dengan posisi tengkurap di atas meja makan dengan setengah menungging tubuhku kembali ditindih Pak Marwan.  Kali ini ia rupanya sudah menurunkan celana dinasnya karena aku merasakan ada benda hangat dan keras yang menempel ketat di belahan pantatku.  Gila panas sekali benda itu! Aku terlalu lemas untuk bereaksi.  Beberapa waktu kemudian aku merasakan benda itu mengosek-kosek belahan kemaluanku yang sudah basah dan licin.  Sedikit demi sedikit benda keras itu menerobos kehangatan liang kemaluanku.  Sesak sekali rasanya.  Mungkin apa yang kubayangkan tadi benar!! Karena selama ini aku belum pernah melihat ukuran,  bentuk maupun warnanya! Tapi aku yakin kalau warnanya hitam seperti si empunya!! 

Aku kembali terangsang waktu benda hangat itu menyeruak masuk dalam kehangatan bibir kemaluanku.  “Hkk. .  Hh. .  Shh. .  Mem. .  Mekhh Bu. .  Ren. .  Ni benar-benar legithh. . ” Gumam Pak Marwan di sela-sela napasnya yang memburu.  Didesakkannya batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku.  Ouhh lagi-lagi sensasi yang luar biasa menerpaku.  Di kedinginan malam dan terpaan deru hujan kami ber2 justru berkeringat. .  Gila. .  Pak Marwan menyetubuhiku di ruang makan di mana aku biasanya sarapan pagi bersama suamiku! Gaunku tidak dilepas semuanya,  hanya disingkap bagian bawahnya sedangkan celana dalam nylonku sudah terbang entah kemana dilempar Pak Marwan”Ouhh Pak Marwann. .  Ahh” aku hanya mampu merintih menahan nikmat yang amat sangat waktu Pak Marwan mulai memompaku dari belakang! Dengan posisi setengah menungging dan bertumpu pada meja makan,  tubuhku disodok-sodok Pak Marwan dengan gairah meluap-luap.  Tubuhku tersentak ke depan waktu Pak Marwan dengan semangat menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam jepitan liang kemaluanku! Lalu dengan agak kasar ditekannya punggungku hingga dadaku agak sesak menekan permukaan meja! Tangan kiri Pak Marwan menekan punggungku sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah pantatku dengan gemasnya.  Tanpa kusadari tubuhku ikut bergoyang seolah-olah menyambut dorongan batang kemaluan Pak Marwan.  Pantatku bergoyang memutar mengimbangi tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Marwan yang menghunjam dalam-dalam.  

Suara benturan pantatku dengan tulang kemaluan Pak Marwan yang terdengar di sela-sela suara gemuruh hujan menambah gairahku kian berkobar.  Apalagi bau keringat Pak Marwan semakin tajam tercium hidungku.  Oh. .  Inikah dunia. .  Tanpa sadar mulutku bergumam dan menceracau liar.  “Ouhmm terushh. .  Terushh. .  Yang kerashh. . ” Aku menceracau dan menggoyang pantatku kian liar waktu aku merasakan detik-detik menuju puncak.  “Putar Bu. .  Putarrhh” kudengar pula Pak Marwan menggeram sambil meremas pantatku kian keras. Batang kemaluannya semakin keras menyodok liang kemaluanku yang sudah kian licin.  Aku merasakan batang kemaluan Pak Marwan mulai berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku.  Aku sendiri merasa semakin dekat mencapai orgasmeku yang ke2.  Tubuhku serasa melayang.  Mataku membeliak menahan nikmat yang amat sangat.  Tubuh kami terus bergoyang dan beradu,  sementara gaunku sudah basah oleh keringatku sendiri.  Pak Marwan semakin keras dan liar menghunjamkan batang kemaluannya yang terjepit erat liang kemaluanku.  Lalu tiba-tiba tubuhnya mengejat-ngejat dan mulutnya menggeram keras.  “Arghh. .  Terushh buu. .  Goyangghh. .  Arghh. . ” 

Batang kemaluannya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku berdenyut kencang dan akhirnya aku merasakan adanya semprotan hangat di dalam tubuhku. .  Serr. .  Serr. .  Serr. .  Beberapa kali air mani Pak Marwan menyirami rahimku seolah menjadi pengobat dahaga liarku.  Tubuhnya kian berkejat kejat liar dan tangannya semakin keras mencengkeram pantatku hingga aku merasa agak sakit dibuatnya.  Tapi aku tak peduli.  Tubuhku pun seolah terkena aliran lisAstriastutik yang dahsyat dan pantatku bergerak liar menyongsong hunjaman batang kemaluan Pak Marwan yang masih menyemprotkan sisa-sisa airmaninya.  “Ouch. .  Akhh. .  Terushh. .  Pak Mar. .  Sanhh. . ” tanpa malu atau sungkan aku sudah meminta Pak Marwan untuk lebih kuat menggoyang pantatnya untuk menuntaskan dahagaku. Akhirnya aku benar-benar terkapar.  Tulang-belulangku serasa terlepas semua.  Benar-benar lemas aku dibuat oleh Pak Marwan.  Kami terdiam beberapa waktu menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami peroleh.  Batang kemaluan Pak Marwan kurasakan mulai mengkerut dalam jepitan liang kemaluanku.  Perlahan namun pasti akhirnya batang kemaluan itu terdorong keluar dan terkulai menempel di depan bibir kemaluanku yang basah oleh cairan kami ber2.  Gila banyak sekali Pak Marwan mengeluarkan air maninya! Aku tahu itu karena banyaknya tumpahan sisa-sisa air mani dari lubang kemaluanku yang menetes ke lantai ruang makan. “Ibu benar-benar hebat. .  Saya jadi sayang ibu. . ” bisik Pak Marwan di telingaku.  Aku hanya diam antara menyesal telah melakukan kesalahan lagi terhadap suamiku dan terpuaskan hasrat liarku.  “Su. .  Sudah Pak. .  Nanti Mbok Sarmi bangun” kulepas tangan Pak Marwan yang masih memelukku.  Aku berusaha melepaskan diri dari jepitan tubuh Pak Marwan yang kekar.  Lalu aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku.  Sekali lagi aku mandi di malam yang dingin itu.  

Aku keluar dari kamar mandi dan baru kusadari betapa kacaunya ruang makanku! Meja makanku sudah bergeser tak karuan sementara kulihat celana dalam nylonku terlempar ke sudut ruangan dekat kulkas.  Pak Marwan masih membetulkan celana dinasnya. “Bu saya. .  Boleh numpang mandi Bu. . ” “Silahkan Pak. .  Handuknya ada di dalam” Aku mengambil kain pel dan membersihkan cairan sisa-sisa persenggamaanku dengan Pak Marwan yang berceceran di lantai.  Sementara itu Pak Marwan mandi di kamar mandi yang baru saja kupakai.  

Permainan Ke2 
Aku masih mengepel cairan sisa-sisa ‘perjuangan’ kami tadi yang masih menempel di lantai.  Tanpa kusadari tiba-tiba Pak Marwan yang hanya mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang.  Gila! Orang ini benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa masuk ke kamar mandi.  “Jangan di situ Pak. . ” bisikku.  Aku tidak mau bersetubuh di lantai kamar mandi yang dingin!! Bisa-bisa masuk angin nanti!! “Ke kamar depan aja Pak. . ” Aku tahu tak mungkin aku menolak keinginan Pak Marwan! Apalagi aku jg menyukainya.  Akhirnya tubuhku dipondong ke kamar depan yang memang khusus untuk tamu bila ada yang menginap.  Kamar tamuku fasilitasnya komplit sesuai standar rumah berkelas.  Kamar tamuku dilengkapi tempat tidur spring bed,  dan kamar mandi di dalam,  serta AC! Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya,  Pak Marwan menurunkan tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku.  Aku diam saja waktu bibirnya menyedot-nyedot bibirku.  Kumisnya yang tebal terasa geli mengais-ngais hidungku.  Aku semakin geli waktu lidahnya berusaha menyusup ke dalam mulutku dan mengais-ngais di dalamnya.  Tanpa sadar lidahku ikut menyambut lidah Pak Marwan yang mendesak-desak dalam mulutku.  

Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora.  Aku sudah tak peduli kalai Pak Marwan itu adalah anak buahku.  Yang kutahu adalah nafsuku mulai bangkit lagi.  Apalagi tangan Pak Marwan mulai menyingkap gaun baby dollku ke atas dan melepaskannya melalui kepalaku hingga aku telanjang bulat di depannya! Gila aku telah telanjang bulat di depan anak buahku sendiri!! Aku memang belum sempat memakai celana dalam dan BH setelah mandi tadi.  Lalu dengan sekali tarik Pak Marwan melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia jg telanjang bulat di depanku! Benar dugaanku! Ternyata batang kemaluannya berwarna hitam dengan rambut yang sangat lebat.  Topi bajanya tampak mengkilat dan mengacung ke atas dengan gagahnya! Mungkin bila dijajarkan dengan pentungan yang biasa dibawanya ukurannya sedikit lebih besar!! Makanya tadi kurasakan betapa sempitnya liang vaginaku menjepit benda itu!! Aku tidak sempat berlama-lama melihat pemandangan itu,  karena sekali lagi Pak Marwan menyergapku.  Mulutnya dengan ganas melumat bibirku sementara tangannya memeluk erat tubuh telanjangku.  Aku merasa kegelian waktu tangannya meremas-remas pantatku yang telanjang.  Aku semakin menggelinjang waktu bibirnya mulai turun ke leher dan terus ke 2 buah dadaku yang padat menjadi sasaran mulutnya yang bergairah! Gila. .  Liar dan panas! Itulah yang dpt kugambarkan.  Betapa tidak! Pak Marwan mencumbuku dengan semangat yang begitu bergelora seolah-oleh harimau lapar menemukan daging! Agak sakit tapi nikmat waktu ke2 buah dadaku secara bergantian digigit dan disedot dengan liar oleh mulut Pak Marwan.  Tanganku pun dibimbing Pak Marwan untuk dipegangkan ke arah batang kemaluannya yang tegak.  “Ouch. .  Shh. .  Enakhh. . ” mulutku tak sadar berbicara waktu lidah Pak Marwan yang panas dengan liar mempermainkan puting payudaraku yang sudah mengeras.  

Sambil masih tetap memeluk tubuhku dan menciumi payudaraku,  Pak Marwan duduk di pinggir tempat tidur.  Dilepaskannya mulutnya dari payudaraku dan kembali diciuminya bibirku dengan ganasnya.  Aku jadi terjongkok didepan tubuh telanjang Pak Marwan yang sudah duduk di pembaringan,  aku jadi berdiri di atas ke2 lututku.  Payudaraku yang kencang menjepit batang kemaluan Pak Marwan yang hitam dan keras itu! “Hh. .  Sshh” Pak Marwan mendesis waktu batang kemaluannya yang besar dan hitam itu terjepit payudaraku.  Dipeluknya tubuhku dengan semakin ketat dan ditekankannya hingga payudaraku semakin erat menjepit batang kemaluannya.  Aku merasa kegelian waktu bulu-bulu kemaluan Pak Marwan yang sangat lebat menggesek-gesek pangkal payudaraku.  Apalagi batang kemaluannya yang keras terjepit di tengah belahan ke2 buah payudaraku,  hal ini menimbulkan sensasi yang lain daripada yang lain.  

Aku tidak sempat berlama-lama merasakan sensasi itu waktu tangan Pak Marwan yang kokoh menekan kepalaku ke bawah.  Diarahkannya kepalaku ke arah kemaluannya,  sementara tangan satunya memegang batang kemaluannya yang berdiri gagah di depan wajahku.  Aku tahu ia menginginkan aku untuk mengulum batang kemaluannya.  Tanpa perasaan malu lagi kubuka mulutku dan kujilati batang kemaluan Pak Marwan yang mengkilat.  Gila besar sekali!! Mulutku hampir tidak muat dimasuki benda itu.  “Arghh. .  Ter. .  Terushh buu. . ” Mulut Pak Marwan mengoceh tak karuan waktu kumasukkan batang kemaluannya yang sangat besar itu ke dalam mulutku.  Kujilati lubang di ujung kemaluannya hingga ia mendesis-desis seperti orang kepedasan.  Tidak puas bermain-main dengan batang kemaluan itu mulutku bergeser ke bawah lidahku menyelusuri guratan urat yang memanjang dari ujung kepala kemaluan Pak Marwan hingga ke pangkalnya.  Pak Marwan semakin blingsatan menerima layananku! Tubuhnya semakin liar bergerak waktu bibirku menyedot ke2 biji telor Pak Marwan secara bergantian.  “Ib. .  Ibu. .  Heb. .  Bathh. .  Ohh. .  Sshh. .  Akhh”.  Aku semakin nakal,  bibirku tidak hanya menyedot kantung zakarnya melainkan lidahku sesekali mengais-ngais anus Pak Marwan yang ditumbuhi rambut.  Pak Marwan semakin membuka kakinya lebar-lebar agar aku lebih leluasa memuaskannya.  

Beberapa waktu kemudian tubuhku ditarik Pak Marwan dan dilemparkannya ke tempat tidur.  Aku masih tengkurap waktu tubuh telanjangku ditindih tubuh telanjang Pak Marwan.  Kakiku dipentangkannya lebar-lebar dengan kakinya dan otomatis batang kemaluannya kini terjepit antara perutnya sendiri dan pantatku.  Ditekannya pantatnya hingga batang kemaluannya semakin ketat menempel di belahan pantatku.  Tubuhku menggelinjang hebat waktu lidahnya kembali menyusuri tulang belakangku dari leher terus turun ke punggung dan turun lagi ke arah pantatku.  Tanpa rasa jijik sedikitpun,  lidah Pak Marwan kini mempermainkan lubang anusku.  Aku merasakan kegelian yang amat sangat tetapi aku tidak dpt bergerak karena pantatku ditekannya kuat-kuat.  Aku hanya pasrah dan menikmati gairahnya. .  Seluruh tubuhku dijilatinya tanpa terlewatkan seincipun.  Dari lubang anus,  lidahnya menjalar ke bawah pahaku terus ke lutut dan akhirnya seluruh ujung jariku dikulumnya.  Benar-benar gila!! Rasa geli dan nikmat berbaur menjadi satu.  Aku semakin mendesis liar waktu mulut Pak Marwan dengan liar dan gemas menyedot payudaraku bergantian.  Ke2 puting payudaraku dipermainkan oleh lidahnya yang panas sementara tangannya bergerak turun ke bawah dan mulai bermain-main di selangkanganku yang sudah basah.  Liang vaginaku berdenyut-denyut karena terangsang hebat,  waktu jari-jari tangan Pak Marwan menguak labia mayoraku dan menggesek-gesekkan jarinya di dinding lubang kemaluanku yang sudah semakin licin.  

Sensasi hebat kembali menderaku waktu dengan liar mulut Pak Marwan menggigit-gigit perut bagian bawahku yang masih rata.  Perutku memang rata karena aku rajin berlatih kebugaran selain itu aku belum mempunyai anak hingga tubuhku masih sempurna.  “Akhh. .  Pak. .  Ouchh. . ” aku mendesis waktu bibir Pak Marwan menelusuri gundukan bukit kemaluanku.  Lidahnya menyapu-nyapu celah di selangkanganku dari atas ke bawah hingga dekat lubang anusku.  Lidahnya terus bergerak liar seolah tak ingin melewatkan apa yang ada di sana.  Tubuhku tersentak waktu lidah Pak Marwan yang panas menyusup ke dalam liang kemaluanku dan menyapu-nyapu dinding kemaluanku.  Kakiki dipentangkannya lebar-lebar hingga wajah Pak Marwan bebas menempel gundukan kemaluanku.  Rasa geli yang tak terhingga menderaku.  Apalagi kumisnya yang tebal kadang ikut menggesek dinding lubang kemaluanku membuat aku semakin kelabakan.  Tubuhku serasa kejang karena kegelian waktu wajah Pak Marwan dengan giat menggesek-gesek bukit kemaluanku yang terbuka lebar.  Perutku serasa kaku dan mataku terbeliak lebar.  Kugigit bibirku sendiri karena menahan nikmat yang amat sangat.  “Akhh pakk. .  Marsannhh. .  Ak. .  Ku. .  Ohh” aku tak kuasa meneruskan kata kataku karena aku sudah keburu orgasme waktu lidah Pak Marwan dengan liar menggesek-gesek kelentitku.  Tubuhku seolah terhempas dalam nikmat.  Aku tak bisa bergerak karena ke2 pahaku ditindih lengan Pak Marwan yang kokoh.  

Tubuhku masih terasa lemas dan seolah tak bertulang waktu ke2 kakiku ditarik Pak Marwan hingga pantatku berada di tepi tempat tidur dan ke2 kakiku menjuntai ke lantai.  Pak Marwan lalu menguakkan ke2 kakiku dan memposisikan dirinya di tengah-tengahnya.  Kemudian ia mencucukkan batang kemaluannya yang sudah sangat keras ke bibir kemaluanku yang sudah sangat basah karena cairanku sendiri.  Aku menahan napas waktu Pak Marwan mendorong pantatnya hingga ujung kemaluannya mulai menerobos masuk ke dalam jepitan liang kemaluanku.  Seinci demi seinci,  batang kemaluan Pak Marwan mulai melesak ke dalam jepitan liang kemaluanku.  Aku menggoyangkan pantatku untuk membantu memudahkan penetrasinya.  Rupanya Pak Marwan sangat berpengalaman dalam hal seks,  hal ini terbukti bahwa ia tidak terburu-buru melesakkan seluruh batang kemaluannya tetapi dilakukannya secara bertahap dengan diselingi gesekan-gesekan kecil ditarik sedikit lalu didorong maju lagi hingga tanpa terasa seluruh batang kemaluannya sudah terbenam seluruhnya ke dalam liang kemaluanku.  Kami terdiam beberapa waktu untuk menikmati kebersamaan menyatunya tubuh kami.  Bibir Pak Marwan memagut bibirku dan akupun membalas tak kalah liarnya.  Aku merasakan betapa batang kemaluan Pak Marwan yang terjepit dalam liang kemaluanku mengedut-ngedut.  Kami saling berpandangan dan tersenyum mesra.  
Tubuhku tersentak waktu tiba-tiba Pak Marwan menarik batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku. “Akhh. . ” aku menjerit tertahan.  Rupanya Pak Marwan nakal jg!! “Enak Bu. .  ” bisiknya “Kamu nakal Pak Marwanhh. .  Ohh” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Pak Marwan mendorong kembali pantatnya kuat-kuat hingga seolah-olah ujung kemaluannya menumbuk dinding rahimku di dalam sana.  Aku tidak diberinya kesempatan untuk bicara.  Bibirku kembali dilumatnya sementara kemaluanku digenjot lagi dengan tusukan-tusukan nikmat dari batang kemaluannya yang besar,  sangat besar untuk ukuran orang Indonesia.  Setelah puas melumat bibirku,  kini giliran payudaraku yang dijadikan sasaran lumatan bibir Pak Marwan.  Ke2 puting payudaraku kembali dijadikan bulan-bulanan lidah dan mulut Pak Marwan.  Pantas tubuhnya kekar begini habis neteknya sangat bernapsu sampai-sampai mengalahkan anak kecil!! Tubuhku mulai mengejang. .  Gawat aku hampir orgasme lagi.  Kulihat Pak Marwan masih belum apa-apa!! Ini tidak boleh dibiarkan. .  Pikirku.  Aku paling suka kalau posisi di atas sehingga waktu orgasme bisa full sensation.  Lalu tanpa rasa malu lagi kubisikkan sesuatu di telinga Pak Marwan,  “Giliranku di atas sayang. . ” Gila! Aku sudah mulai sayang-sayangan dengan satpam di kantorku!! Pak Marwan meluluskan permintaanku dan menghentikan tusukan-tusukannya.  Lalu tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku ia menggulingkan tubuhnya ke samping.  Kini aku sudah berada di atas tubuhnya.  Aku sedikit berjongkok dengan ke2 kakiku di sisi pinggulnya.  Kemudian perlahan-lahan aku mulai menggoyangkan pantatku.  Mula-mula gerakanku maju mundur lalu berputar seperti layaknya bermain hula hop.  Kulihat mata Pak Marwan mulai membeliak waktu batang kemaluannya yang terjepit dalam liang kemaluanku kuputar dan kugoyang.  Pantat Pak Marwan pun ikut bergoyang mengikuti iramaku.  “Shh. .  Oughh. .  Terushh. .  Buu. .  Arghh. . !” Pak Marwan mulai menggeram.  Tangannya yang kokoh mencengkeram ke2 pantatku dan ikut membantu menggoyangnya.  Gerakan kami semakin liar.  Napas kami pun semakin menderu seolah menyaingi gemuruh hujan yang masih turun di luar sana.  Cengkeraman Pak Marwan semakin kuat menekan pantatku hingga aku terduduk di atas kemaluannya.  Kelentitku semakin kuat tergesek batang kemaluannya hingga aku tak dpt menahan diri lagi.  Tubuhku bergerak semakin liar dan kepalaku tersentak ke belakang waktu puncak orgasmeku untuk yang kesekian kalinya tercapai.  Tubuhku mengejat-ngejat di atas perut Pak Marwan.  Ada semacam arus lisAstriastutik yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.  “Akhh. .  Ohh. .  Ter. .  Rushh pakk. .  Ohh” aku menjerit melepas orgasmeku meminta Pak Marwan untuk semakin kuat memutar pantatnya.  

Akhirnya aku benar-benar ambruk di atas perut Pak Marwan.  Tulang belulangku seperti dilolosi.  Tubuhku lemas tak bertenaga.  Napasku ngos-ngosan seperti habis mengangkat beban yang begitu berat.  Aku hanya pasrah saja waktu Pak Marwan yang belum orgasme mengangkat tubuhku dan membalikkannya.  Ia mengganjal perutku dengan beberapa bantal hingga aku seperti tengkurap di atas bantal.  Kemudian Pak Marwan menempatkan diri di belakangku.  Dicucukkannya batang kemaluannya di belahan kemaluanku dari belakang.  Rupanya ia paling menyukai doggy style.  Aku jadi teringat SMS lucu dari kolegaku yang katanya,  “Gaya seks paling ideal bagi orang berusia lanjut adalah gaya anjing. .  Cukup diendus-endus saja!!” Kalau Pak Marwan memang paling senang doggy style,  katanya full imagination.  Setelah tepat sasaran,  Pak Marwan mulai menekan pantatnya hingga batang kemaluannya amblas tertelan lubang kemaluanku.  Ia diam beberapa waktu untuk menikmati sensasi indahnya jepitan liang kemaluanku.  Dengan bertumpu pada ke2 lututnya,  Pak Marwan mulai menggenjot lubang kemaluanku dari arah belakang.  Kembali terdengar suara tepukan beradunya pantatku dengan tulang kemaluan Pak Marwan yang semakin lama semakin cepat mengayunkan pantatnya maju mundur.  

Kurang puas dengan jepitan liang kemaluanku,  ke2 pahaku yang terbuka dikatupkannya hingga ke2 kakiku berada diantara ke2 paha Pak Marwan.  Kembali ia mengayunkan pantatnya maju mundur.  Aku merasakan betapa jepitan liang kemaluanku kian erat menjepit kemaluannya.  Aku bermaksud menggerakkan pantatku mengikuti gerakanya,  tetapi tekanan tangannya terlalu kuat untuk kulawan hingga aku pasrah saja.  Aku benar-benar dibawah penguasaannya secara total.  Tempat tidurku ikut bergoyang seiring dengan ayunan batang kemaluan Pak Marwan yang menghunjam ke dalam liang kemaluanku.  Nafsuku mulai terbangkit lagi.  Perlahan-lahan gairahku meningkat waktu batang kemaluan Pak Marwan menggesek-gesek kelentitku.  “Ugh. .  Ugh. .  Uhh. . ” terdengar suara Pak Marwan mendengus waktu memacu menggerakkan pantatnya menghunjamkan kemaluannya.  “Terushh. .  Terushh Pak. .  Terushh. .  Ahh. . ” kembali tubuhku bergetar melepas orgasmeku.  

Kepalaku terdongak ke belakang,  sementara Pak Marwan tetap menggerakkan kemaluannya dalam jepitan liang kemaluanku kini tubuhnya sepenuhnya menindihku.  Kepalaku yang terdongak ke belakang didekapnya dan dilumatnya bibirku sambil tetap menggoyangkan pantatnya maju mundur.  Aku yang sedikit terbebas dari tekanannya ikut memutar pantatku untuk meraih kenikmatan lebih banyak.  Kami terus bergerak sambil saling berpagutan bibir dan saling mendorong lidah kami.  Entah sudah berapa kali aku mencapai orgasme selama bersetubuh dengan Pak Marwan ini.  Hebatnya ia baru sekali mengalami ejakulasi waktu persetubuhan pertama tadi.  Tubuhku terasa loyo sekali.  Aku sudah tidak mampu bergerak lagi.  Pak Marwan melepaskan batang kemaluannya dari jepitan kemaluanku dan mengangkat tubuhku hingga posisi telentang.  Aku sudah pasrah.  Dibentangkannya ke2 pahaku lebar-lebar lalu kembali Pak Marwan menindihku.  Lubang kemaluanku yang sudah sangat licin disekanya dengan handuk kecil yang ada di tempat tidur.  Kemudian ia kembali menusukkan batang kemaluannya ke bibir kemaluanku.  Perlahan namun pasti,  seperti gayanya tadi dikocoknya batang kemaluannya hingga sedikit demi sedikit kembali terbenam dalam kehangatan liang kemaluanku.  Tubuh kami yang sudah basah oleh peluh kembali bergumul.  “Pak Marwan. .  Hebatthh. . ” bisikku.  “Biasa Bu. .  Kalau ronde ke2 saya suka susah keluarnya. . ” demikian kilahnya.  Kami tidak dpt berbicara lagi karena lagi-lagi bibir Pak Marwan sudah melumat bibirku dengan ganasnya.  Lidah kami saling dorong mendorong sementara pantat Pak Marwan kembali menggenjotku sekuat-kuatnya hingga tubuhku timbul tenggelam dalam busa springbed yang kami gunakan.  Kulihat tonjolan urat di kening Pak Marwan semakin jelas menunjukkan napsunya sudah mulai meningkat.  Napas Pak Marwan semakin mendengus seperti kerbau gila.  Aku yang sudah lemas tak mampu lagi mengimbangi gerakan Pak Marwan.  “Ugh. .  Ughh. .  Uhh. . ” dengus napasnya semakin bergemuruh terdengar di telingaku.  Bibirnya semakin ketat melumat bibirku.  Lalu ke2 tangan Pak Marwan menopang pantatku dan menggenjot lubang kemaluanku dengan tusukan-tusukan batang kemaluannya.  Aku tahu sebentar lagi ia akan sampai.  Aku pun menggerakkan pantatku dengan sisa-sisa tenagaku.  Benar saja tiba-tiba ia menggigit bibirku dan menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam ke dalam liang kemaluanku dan crrt. .  Crrtt. .  Cratt. .  Cratt. .  Crrat. .  Ada lima kali mungkin ia menyemprotkan spermanya ke dalam rahimku.  Ia masih bergerak beberapa waktu seperti berkelojotan,  lalu ambruk di atas perutku.  Aku yang sudah kehabisan tenaga tak mampu bergerak lagi.  Kami tetap berpelukan menuntaskan rasa nikmat yang baru kami raih.  Batang kemaluan Pak Marwan yang masih kencang tetap menancap ke dalam liang kemaluanku.  Keringat kami melebur menjadi satu.  Akhirnya kami tertidur sambil tetap berpelukan dengan batang kemaluan Pak Marwan tetap tertancap dalam liang kemaluanku.  Paginya kami sempat bersetubuh lagi sebelum Pak Marwan pulang kembali ke kantor.  Kami pun berjanji bahwa kami akan berlaku wajar seoalh-olah tidak terjadi apa-apa di antara kami.  

Mulai Saling Merindu 
Sudah hampir 2 bulan sejak persetubuhanku dengan Pak Marwan kami tidak melakukannya lagi.  Hal ini disebabkan karena suamiku selalu berada di rumah dan aku jg sempat dinas luar sehingga tidak ada kesempatan bertemu secara bebas.  Lama-lama aku merasa kangen jg dengan ‘tongkat’ Pak Marwan.  Aku sudah merindukan keliarannya,  bau keringatnya dan jg kejantanannya.  Akhirnya kesempatan yang kutunggu-tunggu datang jg.  Itulah yang namanya rezeki,  tidak dpt dikejar dan tidak dpt pula ditolak.  Kalau sudah waktunya pasti akan datang dengan sendirinya.  Hari itu hari Sabtu jadi kantor libur.  Kebetulan pula suamiku sedang seminar di Pekanbaru dan pulang Minggu sore.  Karena suntuk di rumah aku mencoba datang ke kantor siapa tahu ketemu dengan Pak Marwan.  Tetapi sesampai di kantor ternyata dia tidak ada.  Selidik punya selidik ternyata Pak Marwan sedang mengambil cuti tahunan,  jadi ia libur selama satu minggu.  Terdorong kerin2nku aku memberanikan diri mendatangi rumahnya.  Toh aku sudah biasa datang ke sana dan sudah kenal baik dengan isAstriastutinya.  Setelah membeli biskuit dan gula serta susu buat bayinya aku meluncur ke rumahnya yang kalau kutempuh dari kantor kira-kira memakan waktu 45 menit.  Lumayan jauh.  Suasana tampak sepi waktu mobilku memasuki halaman rumah Pak Marwan yang sudah sangat kukenal.  Aku mengenal seluk beluk rumah itu,  seluruh penghuninya dan tetangganya karena aku memang sering datang ke situ.  Setelah memarkir mobilku di samping rumahnya aku mencoba memanggil si penghuni rumah.  “Yu. .  Yu Sarni. .  Ini aku Reni. . ” berulang ulang kupanggil nama isAstriastuti Pak Marwan,  namun tidak ada jawaban.  

Rumah tidak terkunci namun tidak ada orang.  Aku lalu memutuskan untuk memutar ke belakang rumah siapa tahu mereka berada di kebun belakang rumah.  Tetapi tidak ada orang satu pun di kebun belakang rumah.  Namun sayup-sayup kudengar suara berkecipak air di kamar mandi yang terletak di sudut belakang rumah Pak Marwan.  Jangan berpikiran kalau kamar mandi di perkampungan sama seperti di kota-kota.  Kamar mandi milik Pak Marwan hanya dibatasi anyaman bambu tanpa atap,  sehingga bila hujan selalu kehujanan dan kalau panas selalu kepanasan.  Untungnya lokasinya berada di bawah pohon rambutan sehingga agak terlindung dari panas. Kudengar suara parau mendendangkan lagu ndangdut yang tidak begitu kukenal.  Aku memang tidak suka sama musik dangdut jadi kurang begitu kenal dengan lagu yang dinyanyikan dengan suara fals.  Itu suara Pak Marwan yang sangat kukenal di telingaku.  Dengan rasa iseng kuintip Pak Marwan yang sedang mandi lewat celah-celah anyaman bambu yang agak longgar.  Kulihat tubuh Pak Marwan yang kekar nampak mengkilat terkena busa sabun.  Batang kemaluannya yang besar tampak menggantung dipenuhi busa sabun dan kelihatan lucu,  seperti badut.  Batang kemaluannya bergoyang-goyang seperti jam dinding kuno seiring dengan gerakan Pak Marwan yang menyabuni tubuhnya.  

Pak Marwan yang hanya berbalut handuk tampak kaget melihatku sudah duduk di bangku panjang yang terletak di beranda belakang rumahnya.  “Lho. .  Bu Reni. .  Sudah lama datangnya ” ia melongo seolah tak percaya dengan kedatanganku.  “Enggak baru saja sampai kok.  Orang-orang pada kemana kok sepi ” “Em. .  Anu Bu Sarni sedang ke Jawa menengok ibunya.  Katanya ibunya kangen sama cucunya” “Lho kok enggak bareng sama Pak Marwan ” 
“Enggak soalnya biar irit ongkosnya Bu.  Silahkan masuk Bu. . ” Aku pun masuk ke rumah melalui dapur dengan diiringi Pak Marwan.  Begitu pintu ditutup Pak Marwan langsung memeluk tubuhku dari belakang.  Diciuminya tengkukku dengan ganas seperti biasanya.  “Saya. .  Kangen sama Bu Reni. . ” bisiknya di telingaku.  Aku sendiri jg kangen dengan Pak Marwan.  Kangen dengan cumbuannya dan kangen dengan tongkatnya,  tetapi aku tetap berpura-pura menjaga wibawaku.  “Ahh. .  Pak Marwan bisa saja. .  Kan sudah ada Yu Sarni. . ” “Memang sih. .  Tapi benar saya kangen sama Ibu. . ” Tangannya bergerak ke belakang dan meremas buah pantatku.  Sementara itu mulutnya terus turun ke arah perutku dan lidahnya mengosek-ngosek pusarku membuat aku kembali terangsang hebat.  Tiba-tiba Pak Marwan melepaskan tanganku dari batang kemaluannya dan bersimpuh di depanku yang masih berdiri.  Dengan serta merta digigitnya celana dalamku dan ditarik dengan giginya ke bawah hingga teronggok di pergelangan kakiku.  Aku membantunya melepaskan satu-satunya penutup tubuhku dan menendangnya jauh-jauh.  

Kini mulut Pak Marwan sibuk menggigit dan menjilat daerah selangkanganku.  Dikuakannya kakiku lebar-lebar hingga ia lebih leluasa menggarap selangkanganku.  Dengan bersimpuh Pak Marwan mulai menjilati labia mayoraku sementara tangannya meremas pantatku dan menekannya ke depan hingga wajahnya lebih ketat menyuruk ke bukit kemaluanku.  “Akhh.  Terushh. .  Ohh. . ” aku hanya bisa merintih waktu lidah Pak Marwan menyeruak ke dalam liang kemaluanku yang sudah sangat licin.  Ditekankannya wajahnya ke selangkanganku hingga lidahnya semakin dalam menyeruak ke dalam liang kemaluanku.  Aku semakin menggelinjang waktu lidah Pak Marwan dengan nakalnya mempermainkan kelentitku.  Sesekali ia menyedot kelentitku dan mengosek-kosek kelentitku dengan lidahnya.  Gila. .  Tubuhku mulai mengejang dan perutku seakan-akan diaduk-aduk karena harus menahan kenikmatan. Pak Marwan sudah tidak peduli dengan keadaanku yang kepayahan menahan nikmat.  Lidahnya bahkan semakin liar mempermainkan tonjolan di ujung atas liang vaginaku.  Akhirnya aku tak mampu menahan gempuran badai birahi yang melandaku.  Tubuhku berkelojotan,  dan mataku membeliak menahan nikmat yang amat sangat.  Tubuhku melayang.  “Akhh. .  Terr. .  Ushh” Tubuhku terus berkejat-kejat sampai titik puncaknya dan kurasakan ada sesuatu yang meledak di dalam sana.  Tubuhku melemas seolah tak bertenaga.  Aku hanya bersandar dengan lemas ke dinding kamar tanpa mampu bergerak lagi.  Pak Marwan lalu berdiri di hadapanku.  “Bagaimana Bu. .  ” bisiknya di telingaku.  “Ohh. .  Luar biasa. .  Pak Marwan hebb. .  bathh” desahku.  Masih dengan posisi berdiri dengan aku menyandar dinding,  Pak Marwan menyergap bibirku lagi.  Pak Marwan menempatkan dirinya di antara ke2 pahaku yang terbuka lalu dicucukannya batang kemaluannya ke lubang kemaluanku yang sudah sangat basah.  Dengan tangannya Pak Marwan menggosok-gosokkan kepala kemaluannya ke lubang kemaluanku.  Tubuhku kembali bergetar.  Aku mulai terangsang lagi,  waktu kepala kemaluan Pak Marwan menggesek-gesek tonjolan kecil di lubang kemaluanku.  

Dengan perlahan Pak Marwan mendorong pantatnya ke depan hingga batang kemaluannya menyeruak ke dalam liang kemaluanku.  “Hmmphh. . ” hampir bersamaan kami mendengus waktu batang kemaluan Pak Marwan menerobos liang kemaluanku dan menggesek dinding liang vaginaku yang sudah sangat licin.  Lidah kami saling bertaut,  saling mendorong dan saling melumat.  Tubuhku tersentak-sentak mengikuti hentakan dorongan pantat Pak Marwan.  Pak Marwan terus menekan dan mendorong pantatnya menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku dengan posisi berdiri.  Entah karena kurang leluasa atau kurang nyaman,  tiba-tiba Pak Marwan mencabut batang kemaluannya yang terjepit liang kemaluanku.  Ia membalikkan tubuhku menghadap dinding dan ia sekarang berdiri di belakangku.  Tubuhku sedikit ditunggingkan dengan ke2 tangan menopang tembok.  Dipentangkannya ke2 kakiku lebar-lebar,  lalu ditusukkannya batang kemaluannya ke lubang kemaluanku dari belakang.  Kali ini gerakanku dan gerakannya agak lebih leluasa.  Ke2 tangan Pak Marwan meremas dan memegang erat pantatku sambil mengayunkan pantatnya maju mundur.  Batang kemaluannya semakin lancar keluar masuk liang kemaluanku yang sudah sangat licin. “Ughh. .  Ughh. . ” kudengar Pak Marwan mendengus-dengus seperti kereta sedang menanjak.  Aku pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pak Marwan dengan sedikit memutar pantatku dengan gaya ngebor.  

Napas Pak Marwan semakin menderu waktu kulakukan gaya ngeborku.  Batang kemaluannya seperti kupilin dalam jepitan liang kemaluanku.  Nafsuku yang sudah terbangkit semakin mengelora.  Desakan-desakan kuat di dalam tubuh bagian bawahku semakin menekan.  Kugoyang pantatku semakin liar menyongsong sodokan batang kemaluan Pak Marwan.  “Teruss. .  Buu. .  Terusshh” Pak Marwan mendesis-desis dan tangannya semakin kuat mencengkeram pantatku membantuku bergoyang semakin kencang.  “Arghh. .  Arghh. .  Akhh. .  Say. .  Saya. .  Keluarhh buu. . ” kudengar Pak Marwan menggeram waktu batang kemaluannya mengedut-ngedut dalam jepitan liang kemaluanku. Aku pun merasa sudah di ambang puncak kenikmatanku.  Kugoyangkan pantatku semakin liar dan akhirnya kuayunkan pantatku ke belakang menyongsong tusukan Pak Marwan hingga batang kemaluannya melesak sedalam-dalamnya seolah-olah menumbuk mulut rahimku dan kurasakan ada semburan cairan hangat dari batang kemaluan Pak Marwan di dalam liang vaginaku.  Crat. .  Crrtt. .  Crutt. .  Crtt. .  Crott. . !! Banyak sekali cairan sperma Pak Marwan yang tersembur menyiram rahimku,  hingga sebagian menetes ke karpet kamar tidurnya.  

Kami tetap terdiam sambil mengatur napas.  Tangan Pak Marwan memeluk dadaku dan batang kemaluannya masih mengedut-ngedut menyemburkan sisa-sisa air mani ke dalam liang kemaluanku.  Akhirnya kami ber2 menggelosor ambruk ke kasur kumal yang biasa ditiduri Pak Marwan dan isAstriastutinya.  Kami berbaring dengan Pak Marwan masih memeluk tubuhku dari belakang.  Batang kemaluan Pak Marwan yang sudah terkulai menempel di belahan pantatku.  Kurasakan ada semacam cairan pekat yang menempel ke pantatku dari batang kemaluan Pak Marwan.  Aku tak tahu dengan kain apa Pak Marwan menyeka lubang kemaluanku untuk membersihkan cairan sperma yang menetes dari labia mayoraku.  Aku terlalu lemas untuk memperhatikan.  Akhirnya aku tertidur kelelahan setelah ‘digempur’ habis-habisan oleh Pak Marwan.  Aku tidak tahu berapa lama aku telah tertidur di kasur Pak Marwan.  Aku tersadar waktu ada sesuatu benda lunak yang memukul-mukul bibirku.  Waktu kulirik aku terkejut ternyata benda yang memukul-mukul bibirku tadi adalah batang kemaluan Pak Marwan yang sudah setengah ereksi.  Ternyata ia sedang berjongkok dengan mengangkangiku dan tangannya memegangi batang kemaluannya sambil dipukul-pukulkannya pelan-pelan ke bibirku.  Begitu melihat aku terbangun,  dengan serta merta Pak Marwan memegang bagian belakang kepalaku dan menyodorkan batang kemaluannya ke mulutku.  Aku menjadi gelagapan karena bangun-bangun sudah disodori batang kemaluan laki-laki!! Gila.  

Kurasakan ada sedikit rasa asin-asin yang agak aneh waktu bibirku mulai mengulum batang kemaluan Pak Marwan yang disodorkan padaku.  Sedikit demi sedikit batang kemaluan itu semakin mengeras dalam kulumanku.  Beberapa waktu kemudian Pak Marwan membalikkan posisinya.  Batang kemaluannya masih kukulum dengan liar kemudian ia menundukkan tubuhnya dan wajahnya kini menghadap selangkanganku.  Dipentangkannya ke2 pahaku kemudian lidahnya mulai bekerja menjilat dan melumat gundukan kemaluanku.  Aku semakin gelagapan karena merasa kegelian di selangkanganku sementara mulutku tersumpal batang kemaluan Pak Marwan. Aku ikut menyedot batang kemaluannya waktu Pak Marwan menyedot kemaluanku.  Kami saling menjilat dan menyedot kemaluan kami masing-masing dengan posisi Pak wajah Marsan menyeruak ke selangkanganku dan wajahku dikangkangi Pak Marwan.  Aku semakin menggelinjang liar waktu lidah Pak Marwan mengais-ngais lubang anusku dengan menekuk ke2 pahaku ke atas.  Aku sangat terangsang dengan perlakuannya itu.  Apalagi waktu lidahnya dimasukkan dalam-dalam ke lubang vaginaku.  Aku tak mampu menjerit karena mulutku tersumpal batang kemaluannya.  

Tubuhku bergetar hebat menahan kenikmatan yang menyergapku.  Pak Marwan dengan ganas menjilat-jilat tonjolan kecil di lubang kemaluanku dengan ke2 tangannya membuka lebar-lebar labia mayoraku ke arah berlawanan.  Aku tak mampu bertahan lama atas perlakuannya itu.  Tubuhku mengejan dan berkelejat seperti cacing kepanasan.  Lalu tubuhku tersentak selama beberapa waktu dan akhirnya terdiam.  Aku mengalami orgasme lagi dengan cepatnya. Pak Marwan masih membiarkan batang kemaluannya menyumpal mulutku sambil sesekali lidahnya menyapu-nyapu dinding vulvaku.  Setelah aku mulai dpt mengatur napasku,  Pak Marwan menggulingkan tubuhnya ke samping dan menarik tubuhku agar naik ke perutnya.  Ia bergeser ke arah dekat dinding dan menumpuk beberapa bantal di belakang punggungnya hingga posisinya kini setengah duduk.  Tubuhku ditariknya hingga menduduki perutnya lalu diangkatnya pantatku dan dicucukannya batang kemaluannya ke lubang kemaluanku.  Dengan pelan aku menurunkan pantatku hingga batang kemaluan Pak Marwan secara perlahan melesak ke dalam jepitan liang kemaluanku.  Aku menahan napas menikmati gesekan batang kemaluannya di dinding lubang kemaluanku.  Setelah beberapa kocokan yang kulakukan akhirnya amblaslah seluruh batang kemaluan Pak Marwan ke dalam lubang kemaluanku.  

Kini aku duduk di atas perut Pak Marwan yang setengah duduk dengan punggung diganjal bantal.  Dengan tangan bertumpu dinding tembok aku mulai bergerak menaik-turunkan pantatku secara perlahan.  Sementara itu tangan Pak Marwan mencengkeram pantatku membantu menggerakkan pantatku naik turun,  mulutnya sibuk menetek payudaraku.  Posisi di atas merupakan salah satu posisi favoritku.  Karena dengan posisi ini aku dpt mengontrol sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifku dengan batang kemaluan laki-laki yang menancap di lubang kemaluanku.  “Akhh. .  Shh. .  Terushh. .  Pak Mar. .  Sanhh” aku mendesis-desis waktu Pak Marwan ikut mengimbangi goyanganku sambil ke2 tangannya menekan ke2 payudaraku hingga ke2 putingku masuk ke dalam mulut Pak Marwan.  Ke2 putingku dijilat-jilat dan disedot secara bersamaan hingga membuat nafsuku meningkat secara cepat.  Aku semakin liar menggerakkan pantatku di pangkuan Pak Marwan.  Tubuhku kembali mengejat-ngejat dan seperti terhantam aliran lisAstriastutik.  “Terusshh. .  Terusshh. .  Ouchh. . ” aku semakin liar mendesis waktu kurasakan sesuatu meledak-ledak.  Tubuhku terasa terhempas ke tempat kosong lalu akhirnya aku ambruk di dada Pak Marwan.  

Pak Marwan lalu bangkit dan berganti menindihku dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan lubang kemaluanku.  Bantal yang tadi mengganjal punggungku ditaruhnya untuk mengganjal pantatku hingga gundukan kemaluanku semakin membukit.  Aku yang sudah lemas kembali dijadikan bulan-bulanan genjotan batang kemaluannya.  Bibirnya tak henti-hentinya melumat bibirku dan pantatnya dengan mantap memompa batang kemaluannya menusuk-nusuk lubang kemaluanku.  Ke2 tangan Pak Marwan mengganjal bongkahan pantatku hingga tusukannya kurasakan sangat dalam menumbuk perutku.  “Ughh. .  Ughh. .  Putarrhh. .  Buu. .  Putarrhh ugghh. . ” kudengar Pak Marwan mendengus memintaku memutar pantatku.  Aku menuruti permintaannya memutar pantatku dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. “Terushh. .  Terushh ter. .  Oughh!!” Akhirnya dengan diiringi dengusan panjang tubuh Pak Marwan berkelojotan.  Tubuhnya tersentak-sentak dan hunjaman batang kemaluannya serasa menghantam sangat dalam karena didorong sekuat tenaga olehnya.  Batang kemaluannya berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku dan crott. .  Crott. .  Crott batang kemaluannya menyemburkan cairan kenikmatan ke dalam liang kemaluanku.  Aku merasa ada desiran hangat menyembur beberapa kali dalam lubang kemaluanku.  Nikmat sekali rasanya.  

Tubuh Pak Marwan masih berkelojotan untuk beberapa waktu lalu akhirnya terdiam. “Oughh. .  Bu. .  Ren. .  Ni hebatthh” bisiknya di telingaku dengan napas yang masih ngos-ngosan.  Tubuh kekarnya ambruk menindih tubuh telanjangku.  Batang kemaluannya dibiarkannya tertancap erat dalam jepitan liang kemaluanku.  Kami ber2 sama-sama diam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami raih.  Hari sudah menjelang sore waktu aku bangun dari kasur Pak Marwan.  Aku kaget waktu mau kupakai celana dalamku ternyata sudah basah oleh lendir yang masih menempel.  Rupanya tadi Pak Marwan menyeka lubang vaginaku dengan celana dalamku! Sialan jg terpaksa aku tidak memakai celana dalam.  Dengan memakai celana dan baju atasanku aku keluar ke kamar mandi dan cebok membersihkan lubang kemaluanku dari sisa-sisa lendir sehabis persetubuhan tadi.  Aku baru saja mau berdiri dan menaikkan celanaku waktu tiba-tiba Pak Marwan yang hanya dililit handuk ikut masuk ke kamar mandi.  Belum selesai membanahi celanaku lagi-lagi Pak Marwan merangsekku di kamar mandinya yang terbuka.  

Diturunkannya lagi celanaku hingga sebatas lutut lalu didekapnya aku dari belakang.  Bibirnya dengan gansa dan rakus menjilat dan mencumbu daerah belakang telingaku hingga gairahku mulai terbangkit lagi.  Melihat aku sudah dalam genggamannya dilepasnya lilitan handuknya hingga ia telanjang bulat.  Batang kemaluannya yang sudah setengah keras menempel ketat di belahan pantatku.  Aku sengaja menekan pantatku mundur hingga menggencet batang kemaluannya semakin terbanam di antara ke2 belah buah pantatku.  Kugeser-geser pantatku dengan lembut hingga lama-kelamaan batang itu mulai mengeras lagi. Setelah keras dicucukannya batang kemaluannya ke celah-celah sempit di gundukan bukit kemaluanku lalu digosok-gosokannya ujungnya ke alur sempit itu yang sudah mulai basah.  Sekali lagi kami bersetubuh dengan hanya menurunkan celana panjangku sebatas lutut dan Pak Marwan menggenjotku lagi dengan posisi berdiri.  Aku harus bertumpu pada bak mandi yang terbuat dari gentong tanah sambil setengah nungging sementara Pak Marwan menggenjot dari belakang.  Gila.  Pak satpam satu ini memang gila! Bagaimana tidak ia punya 2 ‘tongkat’,  yang satu dpt membuat orang kesakitan sedangkan yang satunya dpt membuat orang merem-melek keenakan! 

E N D

Tags: #cerita asmara #cerita cinta buta #cerita kasmaran #cerita selingkuh #ciuman nakal #cumbuan kekasih #istri simpanan #minta di cumbu #pacar gelap #rindu bercinta

Download Full Image